Cinta mungkin saja mewujud dalam marah, jengkel, dan kata kasar. Tapi cinta tidak pernah mewujud dalam benci dan dendam. Dan hari ini, bukan lagi saatnya marah, bukan pula dendam yang harus dipelihara. Disaat nasi sudah jadi bubur, yang bisa kita lakukan hanya saling mendoakan semoga kebahagiaan tidak pernah lelah bersama kita.
Sebelum empat tahun lalu, saya tidak pernah merisaukan betapa kesendirian adalah kutukan yang harus diakhiri. Setiap kali malam minggu tiba, disaat semua teman “pondokan” menghabiskan malam bersama teman perempuannya, saya lebih memilih berdiam di kamar, atau mencari kanalisasi lain seperti “rapat dengan teman-teman di kampus”. Ya, kadang semua itu tidak lain hanya untuk membunuh waktu, berjalan dalam rutininitas sebagai penggiat lembaga kemahasiswaan.
Sampai saat itu tiba, entah kapan tepatnya, seseorang tiba-tiba hadir. Ada yang menganggap saya ketiban durian runtuh, ada pula yang bilang hanya “korban retorika senior”. Saya juga tidak begitu percaya diri awalnya, dari smsan lanjut ke makan siang bersama hingga nonton bersama. Dalam kondisi masih kurang percaya diri, mungkin ini hanya junior yang butuh teman diskusi. Tapi seiring waktu, semua berjalan dalam kendali Tuhan, akhirnya “kata mufakat” pun tercapai, “kita berjalan untuk masa depan”.
Kami sepakat bahwa esok yang lebih cerah hanya bisa diraih bersama. Jalan panjang dan berliku pun kami lewati, tidak jarang kami harus bertengkar panjang. Tapi tentu lebih banyak tawa yang mewarnai. Terus terang,rentang waktu inilah saya merasa hidup ini jauh lebih berarti. Saya pun mulai mengenal beberapa kosa kata “ka’doro”, ‘togeang” dll.
Kala itu semua masalah bisa selesai. Saya percaya, apapun perbedaan diantara kami, selalu ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Saya percaya ada begitu banyak persamaan yang harus kami hargai dibanding menyoal perbedaan. Dan, saya sangat menikmati hubungan ini. Yang terpenting saya selalu beranggapan, bahwa hubungan selama 3 tahun lebih ini akan berakhir dengan indah dalam ikatan yang lebih tinggi. Ya, dengan segala upaya, saya berketetapan, minimal 2013, “yang ganjil ini harus segera digenapkan”.
Dalam masa-masa menyenangkan itu, saya selalu membaca saja kak Ahmad Syamsuddin:
aku selalu mengenang bagaimana perjalanan ini bermula
ketika suatu hari aku menemukan telaga pada matamu
yang menyimpan bayangan matahari dan wajahku pada permukaannya
cermin yang menyimpan rahasiaku padamu
bersamamu telah kusaksikan bagaimana kemarau meluruhkan
daun-daun pada hutan yang menaungi jalan yang kita susuri
juga hujan yang melingkupi kita dalam kisi tirainya
melapisi pandangan kita dalam selimut perak
lembut serupa kenangan yang samar
aku tahu, setelah sekian musim
aku selalu menemukan sisi tempatku menepi
istirah dari hiruk pikuk di luar sana
aku selalu membayangkan, kelak menggengam tanganmu
berjalan menuju senja.
menyaksikan malam pelan menjelang. melingkupi kita yang pulang
Memang belum ada prestasi berlebih yang bisa saya banggakan,tapi saya menyadari betul bahwa beberapa hal dalam hidupku saya capai tidak lain karena ada motivasi berlebih setiap kali melihat senyumannya. Penyelesaian studi S1, S2, dan mengajar saat ini tidak lain karena motivasi berlipat saat kami harus bercerita tentang sesuatu yang lebih cerah dikemudian hari. Untuk semua itu, saya harus berterima kasih banyak padanya.
Sampai suatu waktu, ada hal yang tidak bisa lagi dikompromikan. Kala maaf tidak lagi cukup, dan mimpi tidak lagi bisa membendungnya. Gaya sentrifugal lebih dominan dari kekuatan untuk menyatu, saat itulah saya menyadari hubungan ini tidak bisa lagi diselamatkan. Hingga puncaknya ketika seseorang memberitahuku bahwa telah ada yang lebih layak disampingnya.
Pada kondisi ini, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan, marahpun bukan lagi solusi. Saya bukan Tuhan yang marah jika ada mahluk “menduakanNYA”. Ini soal pilihan hidup, dimana “Yang baru pasti jauh lebih baik”. Saya maklum dengan itu.
Hari ini, tidak ada lagi yang perlu disesali. Bahwa dia telah memilih jalannya dengan yang lebih baik, itu adalah pilihan yang harus saya hormati. Terima kasih untuk empat tahun ini. saya yakin, bersamanya akan lebih mudah mengayuh dayung ke pulau harapan.
“Hidup ini harus terus berlanjut, entah suatu waktu kelak dipersimpang jalan kita bertemu, semoga senyum dari mata berbinarmu masih terjaga, tentu bersama buah hatimu dengan lelaki baik itu”
Minggu, 09 Desember 2012
Minggu, 29 Januari 2012
Selamat Tinggal Yogya! Selamat Tinggal Narti!

Jujur saja, tidak ada prestasi berlebihan dalam hidup saya yang patut dibanggakan, namun tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri perjalanan hidup ini hingga akhirnya saya bisa sampai di kota kecil ini. Beberapa tahun lalu, kuliah S2 di perguruan tinggi ternama hanyalah mimpi. Tidak pernah terpikir sedikitpun mimpi itu bakal terwujud. Selain karena orang tua saya yang telah pensiun, di keluarga saya ada semacam hukum tidak tertulis, bahwa pendidikan cukup hanya sampai S1 saja, setelah itu bekerja dan menghasilkan uang.
Ibu saya, seperti kebanyakan ibu lainnya, tidak menuntut banyak. Keinginan satu-satunya: cukup saya memakai baju keki menjadi pegawai pemerintahan di kampung. Baginya, itu sudah cukup, tidak perlu lagi kuliah tinggi-tinggi. Tapi untunglah ia juga ibu yang demokratis. Sekalipun keinginan terbesarnya agar saya menjadi PNS di kampung, tapi ia tidak melarang bila saya punya kehendak lain. Begitupula saat saya mengutarakan keinginan untuk kuliah lagi setamat S1 di unhas. Syaratnya, cari beasiswa sendiri sebab bapak saya telah pensiun.
Dan Alhamdulillah, Tuhan tidak pernah tega membiarkan umatnya hanyut sendiri dalam mimpi-mimpinya. Belum genap sebulan setelah wisuda S1, seorang teman memberi informasi tentang beasiswa dikti, syaratnya harus memiliki SK mengajar. Sepertinya semua telah direnanakan oleh Tuhan dengan begitu rapi, tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan SK tersebut. Dari yayasan al ghazali, saya pun mendapat SK mengajar di universitas islam Makassar. SK sudah ditangan, perjalanan untuk kuliah pun nyaris berjalan lancar.
Setelah mengikuti serangkaian tes, april 2010 saya mendapat surat dari universitas gadjah mada. Isinya berupa pemberitahuan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa magister sains akuntansi di fakultas ekonomika dan bisnis UGM. Sekali lagi, Tuhan bersama mereka yang berani bermimpi.
Kuliah perdana 3 mei 2010, sesuatu yang benar-benar baru dalam hidup saya. Dalam kelas, awalnya saya kikuk, sebab harus berhadapan dengan mereka yang memiliki latar belakang budaya dan kebiasaan yang sangat berbeda dengan saya. Saya ingat betul, di awal perkualiahan, kebiasaan saya yang blak-blakan membuat beberapa teman sedikit tersinggung. Belum lagi, kebiasaan belajar saya yang sedikit nyantai harus diubah seintensif mungkin agar bisa menyesuaikan dengan kultur belajar mengajar dikampus ndeso ini.
Tiga hari lalu, satu tahun delapan bulan setelah kuliah perdana itu, pertama kalinya saya masuk ke gedung graha sabha pramana. Sengaja selama ini tidak menginjakkan kaki ke dalam gedung mewah itu, supaya kelak hanya sekali, yaitu pada saat wisuda. Dan hari itu, upacara wisuda pascasarjana ugm menandakan berakhirnya studi saya di kampus ini.
Terus terang, selama menyelesaikan studi di ugm, ada banyak hal baru yang saya dapatkan. Disini, saya menemukan sosok-sosok aneh semisal Prof Suwardjono, guru besar akuntansi yang sangat mencintai bahasa Indonesia. Dari beliau lah saya mulai sedikit paham bahwa kuantitatif tidak kalah keren dengan kualitatif, dan hanya orang-orang yang mengalami “kegenitan intelektual”lah yang mempertentangkan keduanya. Beberapa lainnya yang selama ini hanya saya kenal lewat karyanya, akhirnya dapat saya temui langsung dalam ruang kuliah, seperti Prof Jogianto yang sewaktu S1 dulu, buku “metoda penelitian salah kaprah”nya menjadi panduan saya dalam menulis skripsi. Juga demikian dengan Prof Zaki Baridwan, Prof Halim, Prof Sugiri, Prof Indra Bastia dll, akhirnya bisa diajar langsung oleh mereka.
Satu hal yang patut saya syukuri, bertemu dengan dengan akademisi yang juga seorang penulis memotivasi saya untuk senantiasa menjaga kebiasaan menulis. Dan Alhamdulillah, selama satu tahun delapan bulan kuliah di yogya, saya diberi kesempatan untuk menerbitkan buku pertama saya, The Notes, kumpulan catatan kecil atas kegalauan saya selama di yogya.

Puncaknya, saat Priof Halim memberi kesempatan untuk merevisi buku bunga rampai pengelolaan keuangan daerah beliau. Edisi kedua terbit 2007, beliau sunting bersama dengan mba theresia, edisi ketiga saya diminta untuk menyuntingnya. Terus terang ini pengalaman pertama saya menjadi penyunting. Selama ini tidak pernah terpikir suatu waktu akan menulis buku tentang akuntansi. Dan alhamdulillah kesempatan itu datang. Buku bunga rampai pengelolaan keuangan daerah itu kini telah rampung. Saat ini telah masuk ke penerbit, UPP STIM YPKN Yogyakarta, semoga dalam waktu dekat segera terbit (jangan lupa beli coy, heheh).
Satu tahun delapan bulan terasa begitu singkat untuk semua hal yang luar biasa selama kuliah di Yogyakarta. Media ini tentu tidak cukup untuk menuliskan segala ketakjuban saya terhadap kota ini. Sedikit hal yang ingin saya bagi, tentang masyarakat kota ini yang masih teguh dengan budaya mereka. Di kota kecil ini, tidak ada hiruk pikuk seperti dikebanyakan kota-kota besar, masyarakatnya lebih senang duduk tenang di depan panggung sambil menikmati alunan kariwitan oleh penggiat seni musik tradisional.
Oia, di kota ini juga saya bertemu dengan Narti, gadis samping rumah asal wonosari, parasnya sungguh memikat. Kuyakin, wajahnya yang menawan itu tak akan lekang oleh waktu. Ia adalah cerminan perempuan jawa pada umumnya, hitam manis dengan bibir yang terus mengumbar senyum dan sapa. Beberapa kali ia menguji kesetianku, mengajak jalan sambil menikmati malam minggu di atas bukit bintang. Bukan sekali saja, melainkan berkali-kali. Tapi untunglah saya seperti lelaki bugis pada umumnya, yang sulit goyah meski digoda berkali-kali oleh senyum memikat dari titisan Nyi Roro Kidul. Tidak satukalipun dari ajakan Narti saya terima.
Sudahlah, saya tidak ingin menulis terlalu banyak tentang keistimewaan kota ini. Toh, semua kita tahu, Yogya memang istimewa.
Sayang sekali, hari ini saya harus meninggalkan segala romantisme kota yogya. Kembali ke makassar yang secara tata nilai dan adab sosial sangat berbeda dengan kota yogya. Besok pagi, saya harus kembali berpacu melawan debu kendaraan kota makaasar yang semakin hari semakin menyesakkan. Besok pagi, saya harus mulai terbiasa bangun dengan secangkir susu tanpa senyum manis narti yang selalu menghiasi pagi di banguntapan.
Selamat tinggal Yogya! selama tinggal Narti! Semoga masih ada perjumpaan setelah ini.
Yogyakarta, 29 Januari 2012, ditengah kesibukan packing barang-barang
Jumat, 23 September 2011
Mestikah Religiositas Dikuantifikasi?

Sejalan dengan semakin sulitnya ilmu ekonomi konvensional menjelaskan berbagai permasalahan yang ada maka perkembangan ilmu ekonomi mulai mengkaji aspek perilaku yang selama ini dianggap irrasional dan berada diluar logika fomal ilmu ekonomi (non-ekonomi). Riset-riset terkait dengan perilaku yang mengkombinasikan antara ilmu ekonomi dan psikologi berkembang begitu pesat terutama dalam ilmu manajemen dan akuntansi.
Terkhusus untuk akuntansi, behavioural accounting merupakan bidang yang cukup diminati oleh banyak periset. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya makalah terkait bidang ini yang masuk disetiap konferensi atau simposium akuntansi. Di UGM sendiri, sepengamatan saya, telah begitu banyak disertasi dan tesis yang membahas mengenai perilaku para akuntan atau non akuntan dalam pengambilan keputusan yang bertalian dengan fungsi akuntansi dan pelaporan. Menariknya lagi, riset-riset tersebut sebagian besar dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui metoda eksperimen. Penggunaan metoda eksperimen dianggap perlu untuk mengontrol variabel ekstarneous guna meningkatkan validitas internal hubungan kausalitas diantara variabel yang ingin diteliti.
Sebenarnya saya mafhum dengan penggunaan pendekatan kuantitatif dalam menjelaskan berbagai perilaku para pelaku ekonomi. Namun, apakah semuanya dapat kita kuantitatifkan? Pertanyaan ini muncul saat saya mengikuti seminar Behavioural Economics and Business di auditorium MSI FEB UGM kemarin. Saya tergelitik dengan dua pemakalah yang memasukkan konstruk religiositas dalam penelitian mereka. Yang pertama adalah Dr. Sugeng Hariadi yang meneliti tentang Penggunaan Religiositas Untuk Menjelaskan Perilaku Ekonomi Melalui Studi Eksperimental, dan yang kedua yaitu Dr. Agus Tony Poputra Se, Ak., MM,MA yang menulis mengenai Faktor Non-ekonomi dan Ketaatan Pajak; Suatu Kajian Eksperimental, dimana salah satu variabelnya adalah religiositas wajib pajak.
Meski menggunakan terminologi religiositas, namun terdapat perbedaan pandangan diantara kedua peneliti tersebut mengenai alat ukur religiositas. Dr. Sugeng menggunakan religiositas dalam bingkai agama (institusional) yang dalam hal ini adalah agama islam. Sementara religiositas dalam penelitian Dr. Agus Poputra lebih cenderung pada nilai-nilai universal antara mahluk dengan Tuhannya tanpa harus dibingkai oleh institusi keagamaan.
Maka, instrumen keduanya pun berbeda. Dr. Sugeng menggunakan The Religiosity of Islam Scale (RoIS) yang dikembangkan oleh Jana Masri dan Priester pada tahun 2007 sebagai instrumen untuk mengkur religiositas seseorang. Sedangkan, Dr. Agus Poputra menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Torgler yang mengukur religiositas tanpa dipengaruhi oleh doktrin agama. Penggunaan skala 1 sampai 10 digunakan pada lima pertanyaan yang akan membentuk konstruk religiositas.
Dan di barat sebenarnya telah ada begitu banyak penelitian yang mencoba mengkuantifikasi konstruk religiositas dalam angka-angka. Semisal yang dikutip oleh Hood Jr dkk dari Glock di tahun 1962, bahwa religiositas terbagi melalui beberapa dimensi, yaitu dimensi pengalaman (experiential dimension), dimensi belief (ideological dimension), dimensi praktik (ritualistic dimension), dimensi pengetahuan (intellectual dimension), dan dimensi pengamalan (consequential dimension).
Namun maaf, sekali lagi saya pun ragu, dapatkah religiositas kita ukur? Bukankah hubungan mahluk dengan Penciptanya begitu kompleks dan mendalam untuk kita sederhanakan dalam angka-angka?
Pikiran awam saya, mungkin memang tidak semua hal dapat kita paksakan kaji dengan pendekatan kuantitatif. Dalam hal ini, religiositas mungkin akan lebih tepat bila diteliti menggunakan pendekatan kualitatif. Dan sepanjang yang saya baca, belum saya temukan penelitian dari dosen UGM yang sebagian besar beraliran positivism mengkaji religiositas dalam penelitian mereka. Lagi-lagi dengan pikiran awam saya, jangan-jangan, sebenarnya sebagian kelompok positivism pun mengakui bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa kita ukur. Penelitian kuantitatif yang mereka lakukan hanya sebatas objek pada yang memang dapat diukur, sementara beberapa hal yang tidak dapat diukur harus diakui sebagai objek kajian kawan-kawan beraliran kualitatif.
Bukankah lucu bila kesimpulannya: Setiap peningkatan satu (1) derajat keimanan akan mengurangi jumlah uang yang diselewengkan sebesar Rp 1,2 triliun, heheheh,,,,
Minggu, 10 Juli 2011
Biru

Sebenarnya saya mulai jenuh dengan warna biru. Ada orang berbadan besar yang sering mengenakan baju biru, hanya bisa berpidato tanpa jeda mengaharap haru. Dibelakangnya, barisan tikus berjubah biru, yang biasa menyaru jadi politikus, kini mulai resah karena beberapa diantaranya tertangkap basah. Yang maruk tidak sendiri, juga tidak mau jadi tumbal sendiri, samudera biru pun ia aduk, warna biru berubah jadi keruh.
Di atas sana, langit tidak lagi biru. Asap dari cerobong pabrik hasil dari konsensus kapitalis asing dengan orang berbatik biru telah mengubah langit biru nusantara menjadi kelabu. Awan hitam menutupi penjuru negeri. Anak-anak negeri pun tak lagi menikmati langit biru nusantara kala bermain layangan.
Dan rupanya kita tidak lagi peduli dengan langit biru yang hilang itu. Karena memang kita tidak lagi bermain layangan. Kita lebih asyik tertawa sendiri memelototi layar biru di depan laptop kita. Memiliki 3687 teman, yang anehnya hanya bisa ditemui disudut kamar yang sepi.
Anomali, tapi terus terang, saya begitu menikmatinya. Layar biru dalam laptopku setidaknya telah begitu banyak membantu, sekadar memastikan senyum manismu masih tergulum. Ya, kau, generasi biru lembaga tetangga, yang membuat ungu masih bersahabat dengan mereka yang warna biru. Hahaha,,,
Jumat, 01 Juli 2011
Cerita Dari Jamuan Makan Semalam

Coi, tahukah kau bahwa hidup ini adalah akumulasi kisah mengharukan? Ada begitu banyak mozaik yang mungkin saja tercecer dan kita sering abaikan, namun menyembunyikan begitu besar hikmah untuk kita petik dan jadikan motivasi. Saya menulis ini bukan hanya karena saya belakangan banyak menonton film-film Denzel Washington, tapi entah kenapa akhir ini-akhir ini saya memang banyak bertemu dengan mereka yang jalan takdirnya merupakan cerita sukses. Dan potongan mozaik ini saya temukan dari cerita jamuan makan semalam. Di sebuah meja makan, saya menemukan dua potong cerita berbeda dari dua orang yang juga berbeda latar belakang, Pak Yono dan Prof Halim.
Cerita semalam bermula dari ajakan dosen saya di unhas yang sedang ke Jogja untuk menemui promotornya. Dan beliau pun mengajak saya untuk ikut serta sebab promotor beliau juga adalah professor pembimbing tesis saya. Namanya Prof Halim. Ajakan ini tentu saya sambut baik, jarang-jarang bisa mendapat kesempatan ikut belajar bersama profesor dengan mahasiswa S3.
Di luar dugaan, bimbingan disertasi ini dimulai dengan jamuan makan malam dari tuan rumah. Dosen saya ini memang bersahabat dengan istri Prof Halim, dan sebelumnya ia memang memeberitahu perihal kedatangan kami. Bukan pula jamuan makan malam biasa. semua menunya telah tersaji di meja yang sengaja diletakkan di tengah pekarangan rumah beliau yang dikeliling rumput hijau. Romatis coi, jangan coba membayangkannya jika keseharianmu cuma makan di burjo geulis.
Rupanya pula, bukan hanya kami. Tidak lama berselang saat kami memulai makan, datang juga Pak Agussalim Sale, dosen Universitas Cenderawasih yang baru saja menyelesaikan doktornya di universitas barwijaya malang. Kebetulan Prof Halim adalah penguji belaiu saat ujian terbuka lalu. Pak Agussalim datang bersama sopirnya. Nah, sopir Pak Agussalim inilaih yang membuat saya terperangah. Namanya Pak Yono.
Sebagaimana jamuan makan malam, selalu ada banyak cerita yang mengalir setelahnya. Dan cerita Pak Yono dan Prof Halim lah yang membuat saya terngangah-ngangah. Pak Yono, sekalipun hanya seorang sopir rupanya punya banyak kisah inspiratif. Kita memang harus banyak belajar dari mereka yang kadang dianggap tidak penting oleh negara ini.
Tanpa segan ia mengisahkan dirinya yang telah menderita penyakit diabetes selama 20 tahun. Katanya, “Sudah hampir dua puluh tahun saya sakit diabetes Pak, tapi Alhamdulillah sampai sekarang tubuh saya masih kuat, hanya gigi saya yang ompong dipengaruhi penyakit ini.” Kuncinya, katanya, ada pada pikiran kita. Menurutnya, kita tidak perlu merisaukan penyakit yang kita dera, cukup optimis saja bahwa Tuhan selalu adil pada mahluknya.
Jika sebagian orang selalu dihantui dengan penyakitnya, Pak Yono malah melawannya dengan cara berperilaku bak orang sehat. Segala rupa makanan yang menjadi momok banyak penderita penyakit gula dan kolesterol ia santap tanpa takut. “Cukup merasa diri sehat, semuanya saya makan Pak. Padahal, setiap periksa gula, selalu diatas 400an” guyonnya dalam dialek khas Makassar. Kebetulan lagi, dia juga asli makassar.
Cerita Pak Yono belum selesai, ia juga menuturkan perihal anaknya yang kini bekerja disebuah perusahaan besar asal jepang. Sekali lagi, sekalipun hanya sopir dengan gaji seadanya, beliau mampu menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Bahkan, anaknya tersebut adalah salah satu mahasiswa berprestasi di universitas brawijaya malang. “Dulu, waktu saya cuci mobil, anak saya datang membantu Pak, saya bilang, kau mau juga seperti Bapak ini? dia bilang tidak mau, saya langsung potong Pak, makanya sekolah!” tuturnya lagi.
Di meja makan yang sama, saya juga menemukan cerita lain dari orang yang berbeda. Cerita kedua ini bersumber dari Prof Halim. Ia adalah guru besar UGM sekaligus pakar keuangan daerah. Sejak bertemu dengannya setahun lalu disebuah kelas akuntansi sektor publik, beliau memulai pengajaran dengan mentraktir kami sekelas. Saya pikir, ini adalah cara terbaik untuk membuat suasana kelas lebih akrab, rupanya tidak hanya itu, di akhir semester beliau lagi-lagi mentraktir kami. Ini yang sangat jarang kita temui dari banyak akademisi yang selalu menjaga jarak dengan mahasiswanya. Dan jamuan semalam pun menegaskan betapa beliau sangat bersahabat, tanpa peduli dengan siapa, baik itu mahasiswa ataupun juga dengan seorang sopir semisal Pak Yono yang kadang diremehkan di negeri ini.
Dari cerita Pak Halim yang membuat saya kagum adalah saat ia menceritakan sejarah mushallah depan rumahnya. Mushallla besar yang lumayan mewah depan rumah beliau itu ternyata ia bangun sendiri dengan harapan orang-orang sekitar juga dapat beribadah disitu. Ukuran mushallah itu cukup besar. Tata aritekturnya pun cukup modern. Di saat beberapa orang baru berpidato tentang kerukunan, Prof Halim telah mengamalkannya dengan membuat mushallah bagi warga sekitar rumahnya. Wah, dalam hati saya tersentuh, begitu besar pahala untuk mereka yang menyediakan tempat bagi yang lain untuk menyapa Tuhannya.
Tidak terbilang betul pelajaran dari jamuan makan semalam. Pak Yono dan Prof Halim, dua orang beda latar belakang, masing-masing dengan cerita yang mengaharukan. Tidak perlu mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk mengikuti seminar motivasi dari motivator ulung, cukup dengan melek terhadap sekeliling kita, ada begitu banyak kepingan mozaik berharga dari mereka yang tidak kita sangka. Percaya saja,di tengah carut-marut negara akibat ulah para elit, masih tersimpan banyak energi positif dari orang-orang seperti Pak Yono dan Prof Halim.
Minggu, 12 Juni 2011
Sedikit Seputar Balanced Scorecard (BSC)

Di sebuah warung makan pagi tadi, secara tidak sengaja saya semeja dengan seorang karyawan swasta. Ia memperkenalkan diri sebagai auditor internal di perusahaannya. Diskusi kami berlanjut saat ia mengetahui saya adalah mahasiswa akuntansi. Dan dari cerita yang terus mengalir, tiba-tiba ia menyinggung soal balanced scorecard.
Kebetulan dulunya ia juga mahasiswa akuntansi. Berbekal pengetahuan teoretis dan pengalaman kerjanya, ia begitu semangat bercerita seputar balanced scorecard (BSC). Biasanya, bila bertemu dengan mereka yang memiliki begitu banyak pengalaman, saya lebih memilih tidak banyak ngomong dan mendengarkan saja.
Katanya, Norton dan Kaplan ngawur saat merumuskan BSC. Berdasarkan pengalamannnya, BSC tidak lebih dari fantasi Kaplan dan Norton. BSC sangat ideal dalam teori namun fakatnya tidak pernah bisa seideal bayangan semua pihak. Begitu banyak perusahaan yang menerapkan BSC namun tidak pernah mencapai hasil maksimal. Perusahaan teman diskusi saya juga ini, katanya telah mencoba mengaplikasikan BSC dalam mengukur kinerja, dan hasilnya tidak memuaskan sebagaimana yang mereka inginkan. Malah, begitu banyak kebingungan oleh karyawan, terutama auditor internalnya, saat konsep ini diterapkan.
Ada benarnya juga, semenjak diperkenalkan pada awal tahun 90an, masih sedikit cerita sukses perusahaan atau lembaga pemerintah yang mampu memetik hasil dari penerapan BSC. Makanya, diskusi tentang BSC masih berlanjut hingga hari ini, terutama dalam upaya menemukan konsep ideal yang mampu diadopsi oleh semua perusahaan.
Dan tiba-tiba saja saya teringat dengan kuliah Behavioral Accounting semester lalu. Beberapa artikel penelitian yang dibahas dalam mata kuliah tersebut mengupas soal BSC. Pertanyaannya, ada apa dengan BSC? Benarkah BSC hanyalah konsep abstrak yang tidak pernah bisa dibumikan atau jangan-jangan masalahnya ada pada pengguna yang tidak paham betul dengan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Kaplan dan Norton?
Telah ada begitu banyak peneliti yang mencoba menggali kenapa BSC masih belum mampu optimal. Salah satu penelitian yang cukup populer dalam akuntansi manajemen adalah penelitian Lipe dan Salterio di tahun 2000. Keduanya mencoba menejelaskan kenapa BSC masih belum optimal. Mereka memperkenalkan istilah common measures dan unique measures. Penelitian keduanya menunjukkan adanya permasalahan kognitif dalam penerapan BSC, dimana sebagian besar para pengguna BSC masih menggunakan common measures daripada unique measures ketika mengukur kinerja. Dalam hal ini,yang dimaksud common measuers adalah ukuran kinerja yang berlaku umum pada setiap unit/divisi. Sementara unique measures adalah ukuran kinerja spesifik untuk satu unit/divisi sesuai dengan karakteristik divisi/unit tersebut.
Untuk memahami perilaku tersebut, setidaknya ada dua penjelasan yang bisa kita gunakan, yaitu bounded rationality dan heuristic. Bounded rationality atau keterbelengguan pengetahuanlah mungkin menjadi penyebab kenapa evaluator lebih cenderung menggunakan common measures ketimbang unique measures. Sebagaimana kata Simon (1957), “individual judgement is bounded in its rationality”. Bounded rationality disebbakan kurangnya informasi, keterbatasan waktu dan biaya, atau karena keterbatasan pada kecerdasan pengambil keputusan.
Penjelasan kedua yang dapat dipakai dalam memahami perilaku evaluator di atas adalah heuristic, yaitu kecendrungan setiap individu untuk menyederhanakan masalah/strategi (simplifying strategies) dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini dipaparkan oleh Kahneman dan Tversky dalam penelitiannya.
Demikian sedikit hal yang mungkin bisa menjelaskan mengapa BSC masih sulit kita terapkan. Bukan karena Norton dan Kaplan yang berfantasi, melainkan kita yang mungkin belum makasimal menggunakan BSC sebagaimana maksud Kaplan dan Norton.
Bingung ya? Sekali-kali kita bercerita yang sedikit ilmiahlah Boy, Hehehe,,,,
Jumat, 03 Juni 2011
Ini Dia “Mr. A” yang Dituding Obok-obok Demokrat
Mengikuti kisruh Partai Demokrat ibarat menonton sinetron Putri yang ditukar, masalah silih berganti tanpa penyelesaian yang jelas. Dalam sinetron “putri yang ditukar” misalnya, belum selesai masalah Prabu, eh datang lagi masalahnya Amira, ckckckc,,,,. Begitupun dengan partai biru ini, belum selesai kasus suap Nazaruddin, Dewan pembinanya yang gemar pidato itu tiba-tiba bikin geger, lagi-lagi dengan air muka sedih ia umumkan ke publik bahwa ia sedang di fitnah. Biasalah Boy, pemimpin kita ini memang lebay, lebih senang bila rakyat kasihan padanya ketimbang menempatkan dirinya sebagai tauladan.
Dan tadi malam, saya menonton berita, seorang petinggi partai itu, Ramadhan Pohan, lagi-lagi kembali menabuh genderang, Katanya, semua kisruh di partainya, tidak lain karena ada pihak eksternal yang mencoba menjadikan partainya public enemy. Ah, aya-aya wae!
Katanya, orang itu adalah politisi dari luar partainya. “Mr. A”, demikian inisial orang yang katanya mencoba mengirim fitnah dan menysupi partai Demokrat. Tapi, siapa Mr. A?
Sampai dengan tadi siang, saat saya membaca kompas.com, semua pemberitaan masih seputar teka-teki siapa Mr. A yang dimaksud. Jangan-jangan, ini hanya akal-akalan mereka saja untuk memutarbalikkan opini publik. Orang-orang dalam partai ini memang punya kebiasaan mirip ketua dewan pembinanya, senang meraih simpati publik dengan menempatkan diri mereka sebagai yang teraniaya.
Tapi, jangan-jangan memang sosok “Mr. A” itu benar adanya. Tapi siapa? Melalui info di akun facebook, saya mendapat foto orang yang di maksud Mr. A tersebut. Mau tahu siapa orangnya? Berikut ini gambarnya:

Arkam Syahrir. Benarkah beliau orangnya? Kalau beliau sih bukan perusak partai demokrat, tetapi penjinak hati anak gadis orang. Hehehe, Just a joke Boy, Karena negeri ini butuh hiburan,
Dan tadi malam, saya menonton berita, seorang petinggi partai itu, Ramadhan Pohan, lagi-lagi kembali menabuh genderang, Katanya, semua kisruh di partainya, tidak lain karena ada pihak eksternal yang mencoba menjadikan partainya public enemy. Ah, aya-aya wae!
Katanya, orang itu adalah politisi dari luar partainya. “Mr. A”, demikian inisial orang yang katanya mencoba mengirim fitnah dan menysupi partai Demokrat. Tapi, siapa Mr. A?
Sampai dengan tadi siang, saat saya membaca kompas.com, semua pemberitaan masih seputar teka-teki siapa Mr. A yang dimaksud. Jangan-jangan, ini hanya akal-akalan mereka saja untuk memutarbalikkan opini publik. Orang-orang dalam partai ini memang punya kebiasaan mirip ketua dewan pembinanya, senang meraih simpati publik dengan menempatkan diri mereka sebagai yang teraniaya.
Tapi, jangan-jangan memang sosok “Mr. A” itu benar adanya. Tapi siapa? Melalui info di akun facebook, saya mendapat foto orang yang di maksud Mr. A tersebut. Mau tahu siapa orangnya? Berikut ini gambarnya:

Arkam Syahrir. Benarkah beliau orangnya? Kalau beliau sih bukan perusak partai demokrat, tetapi penjinak hati anak gadis orang. Hehehe, Just a joke Boy, Karena negeri ini butuh hiburan,
Langganan:
Postingan (Atom)