Sabtu, 22 Januari 2011

Gaji Tak Naik, Lagi-lagi SBY Curhat


Pagi tadi, saat membaca harian Kompas saya tertawa sinis membaca judul salah satu berita “SBY: Gaji Saya Tak Naik”. Berita tersebut terkait dengan sambutan Pak Beye di depan para prajurit TNI seputar pemberian tunjangan kepada anggota TNI/POLRI.

SBY curhat lagi. Sudah tujuh tahun, katanya, ia tak mendapat kenaikan gaji. Dalam hati saya nyeletuk, Bapak Presiden masih mending, masih mempeoleh gaji hingga puluhan juta –itu belum termasuk segala fasilitas dan kemewahan yang mungkin mencapai ratusan hingga milyaran rupiah-, sementara jutaan rakyat lainnya mungkin saja telah sepuluh tahun tanpa penghasilan tetap. Mereka menganggur.

Mungkinkah keluhan ini karena desakan Ibu Ani yang juga mulai merasakan dampak kenaikan harga cabe? Entahlah. Gaji hingga puluhan juta saya rasa lebih untuk semua kebutuhan Pak Beye. Protokol istana juga telah memberi fasilitas yang besar bagi presiden, bahwa semua keperluannya dibawah tanggungan negara. Gaji apa lagi yang ia harus tuntut? Bukankah setiap kali pidato, ia selalu bicara tentang keikhlasan mengemban amanah?

Pak SBY mungkin perlu berkenalan dengan Tarmidi, penjual makanan depan lorong, yang harus berpikir eksra mentaktisi drastisnya kenaikan harga cabe. Padahal, hampir seluruh pelanggannya memilih berbelanja di warung Tarmidi hanya karena sambel ulek Tarmidi tiada duanya di seantero Banguntapan. Kini harga bahan baku utama dagangannya melambung, menaikkan harga makanan sama halnya mengusir pembeli dari warungnya.

Menyoal gajinya yang tak naik-naik adalah perkara serius bagi seorang yang mengaku negarawan. Gaji adalah terminologi bisnis. Dimana usaha setiap orang dihargai dengan gaji yang akan mereka peroleh. Dalam konteks pengabdian, kata “gaji” sebenarnya tak relevan. Setiap orang yang memilih menjadi abdi negara, tidak elok bila mempersoalkan apayang akan diperolehnya. Lagi-lagi saya harus mengutip ungkapan klise dari John F Kennedy, “jangan tanyakan apa yang negara telah berikan padamu tapi tanyakan apa yang telah kau berikan pada negaramu”.

Lagian, peningkatan gaji serta numerasi hanya dikhususkan bagi mereka yang telah memberi kontribusi nyata. Gaji yang besar selayaknya berbanding lurus dengan kinerja yang optimal. Dan maaf, jika boleh jujur dengan kinerja Pak SBY selama ini, tidak pantas kiranya beliau meminta kenaikan gaji dengan sejumlah permasalahan yang melilit negara. Bahkan jika dibawa pada logika kapitalisme, pemimpin sebuah perusahaan yang hanya memberi kerugian bagi perusahaan layak dipecat oleh pemegang saham.

Saya tidak berharap tulisan ini dibaca oleh Pak SBY, sebab tak ada waktu bagi saya bila diundang ke istana mendengar klarifikasi beliau hanya karena mengatakan “SBY Lebay” hanya bisa mengeluhkan gajinya sebagaimana para tokoh agama yang harus menyempatkan waktunya ke istana setelah mengatakan “SBY Pembohong!”

Selasa, 18 Januari 2011

Alhamdulillah Aku Bukan Gayus

“Andai ku Gayus Tambunan yang bisa pergi ke bali
Semua keinginannya pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini hukuman bisa di beli”

Petikan lagu Bona Paputungan di atas menjadi perbincangan publik sepekan belakangan, sampai-sampai menembus top chart di berbagai radio. Dari seorang mantan narapidana, Bona Paputungan kini menjadi buah bibir. Di televisi ia tampil berkali-kali. Video klipnya diputar setiap saat. Sekarang, ia memasuki bagian lain dari hidupnya; menjadi selebritis. Sesuatu yang dimimpikan kebanyakan orang. Yang mungkin juga dimimpikan oleh SBY.

Jika beberapa waktu lalu SBY juga mencipta lagu, diperdengarkan pada upacara tujuh belasan, bahkan di masukkan dalam soal tes CPNS, namun lagu SBY kalah tenar dengan Bona. Masyarakat lebih nyaman mendengar lagu Bona. Saat ini, ratusan ribu orang mengunduh video klipnya melalui internet.

Sebenarnya, apa yang membuat lagu Bona seketika menjadi popular? Padahal, video klipnya di buat secara sederhana, berlatar di lembaga pemasyarakatan Gorontalo.

Menurutku, ada beberapa hal yang membuat lagu Andai Aku Gayus menjadi popular. Pertama, karena tema yang diangkat sangat Indonesia sekali. Ia mewakili kegundahan seluruh rakyat Indonesia yangmulai muka dengan sistem hukum yang ada di negeri ini. “Lucunya di negeri ini hukuman bisa dibeli”.

Yang kedua yang membuat orang-orang juga menyukai lagu tersebut karena penyanyinya sendiri adalah seorang mantan narapidana. Ia tidak sekadar menyanyi. Lagu itu lebih mirip curahan hati sang penyanyi atas ketidakadilan yang ia terima. Perlakukan berbeda antara dirinya dengan Gayus. “Hidup dipenjara sangat berat kurasakan, badan kurus karena beban pikiran”, sementara Gayus, “semua keinginannya pasti terpenuhi”.

Kekuatan sebuah lagu terletak pada penghayatan serta keserasian antara lirik lagu dengan suasana hati sang penyanyi. Ini yang kita dapati dari lagu Bona, rasa ketidakadilan atas perlakuan yang ia terima dicurahkan secara penuh pada lagunya. Dan mungkin hal ini yang tidak kita dapati dari lagu SBY sehingga kita tidak begitu senang mendengarkannya. Makna lagu hilang sebab dibuat hanya untuk mendongkrak citra yang terpuruk akibat “kebohongan”-mengutip para tokoh agama- yang terus menerus diproduksi.

Semalam, setelah mendapat desakan berbagai pihak, SBY mengeluarkan 12 instruksi untuk penuntasan kasus Gayus. Saya hanya bisa berharap semoga keduabelas instruksi tersebut bukan lagi kebohongan baru. Harapan semua orang, mungkin juga Bona, tidak ada lagi perlakuan istimewa seperti yang diperoleh Gayus Tambunan.

Kadang-kadang saya juga iri dengan Gayus yang dalam penjara sekalipun masih sempat berwisata ke Bali dan luar negeri. Namun, tidak bermimpi sedikitpun menjadi seperti Gayus sebagaimana lagu Bona, “Andai Aku Gayus”. Amit-amit! Saya hanya ingin bersyukur, “Alhamdulillah Aku Bukan Gayus”

Jumat, 14 Januari 2011

Ulama dan Si Tukang Bo’ong!

Apa yang anda bayangkan bila tokoh agama mulai terusik meninggalkan masjid, gereja, dan vihara, bertemu dalam satu tempat membicarakan negara yang tak menentu. Mereka membincang pemimpin mereka yang katanya mulai berjarak dengan rakyatnya.

Syahdan, tiga puluh tahun lalu para Mullah yang jengah dengan kepemimpinan Syah Pallevi memenuhi jalan-jalan utama Teheran, menyebar selebaran mengajak rakyat bersama dalam iring-iringan menuntut digulirkannya monarki yang telah berabad membelenggu. Dari Paris,Imam Khomeini berpidato dihadapan ratusan wartawan menggelorakan revolusi ke sepenjuru Iran. Sahut bersambut, rakyat Iran di dipuncak kesabarannya memotong jalan panjang kekuasaan Syah, revolusi pun terjadi.

Belum lama dari sekarang, di Myanmar, para biksu menabrak tradisi “diam”. Mereka gelisah. Bila harga melambung dan rakyat tercekik, bukan lagi waktunya berdiam diri di Pagoda. Sebab agama adalah keseharian dan agama menolak segala perilaku yang merugikan rakyat banyak. Mereka turun ke jalan, untuk sebuh revolusi yang mereka idam-idamkan. Meski, akhir dari aksi mereka tak semulus revolusi yang dikomandani Imam Khomeini di Iran. Junta Militer membabi buta menangkap dan menyiksa para biksu.

Di belahan yang lain, sejumlah catatan sejarah setidaknya menjadi penjelas betapa gejolak perlawanan terhadap rezim tidak sedikit di gelorakan melalui mimbar-mimbar masjid, melalui corong gereja yang dikumandangkan para pendeta atau dari mulut para biarawan.

Sejatinya, agama manapun menyampaikan pesan yang sama perihal kehidupan sosial. Keadilan mesti ditegakkan,kelaparan tidak boleh terjadi, dan pemimpin yang zalim dan pembohong harus digantikan-kasarnya diturunkan. “Agama harus membebaskan!” demikian kata Ali Syariati. Segala ritus yang menghubungkan hamba dengan penciptanya harus dilengkapi dengan ikhtiar untuk membebaskan sesama.

Mungkin karena alasan itu, beberapa tokoh lintas agama beberapa waktu lalu bertemu dalam suatu forum di kantor PP Muhammadiyah. Mereka adalah Syafii Maarif, Andreas A Yewangoe, Din Syamsuddin, Pendeta D Situmorang, Bikkhu Pannyavaro, Sholahuddin Wahid, I Nyoman Udayana Sangging, Franz Magnis Suzeno dan Romo Benny Susetyo. Mereka mencapai titik sepakat, “SBY Pembohong!”. Sejumlah fakta pendukung mereka kemukakan, sembilan (9) kebohongan lama dan sembilan (9) kebohongan baru.

Diantara semua itu,beberapa hal menurutku paling fatal adalah UU Sistem Pendidikan Nasional menuliskan anggaran pendidikan harus mencapai 20% dari alokasi APBN. Alokasi ini harus dari luar gaji guru dan dosen. Hingga kini anggaran gaji guru dan dosen masih termasuk dalam alokasi 20% APBN tersebut.

Dalam Pidato Kenegaraan 17 Agustus 2010 Presiden SBY menyebutkan bahwa Indonesia harus mendukung kerukunan antarperadaban atau harmony among civilization. Faktanya, catatan The Wahid Institute menyebutkan sepanjang 2010 terdapat 33 penyerangan fisik dan properti atas nama agama dan Kapolri Bambang Hendarwso Danuri menyebutkan 49 kasus kekerasan ormas agama pada 2010.

Presden SBY meminta penuntasan rekening gendut perwira tinggi kepolisian. Bahkan, ucapan ini terungkap sewaktu dirinya menjenguk aktivis ICW yang menjadi korban kekerasan, Tama S Langkun. Dua Kapolri, Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Jenderal Timur Pradopo, menyatakan kasus ini telah ditutup. SBY juga berkali-kali menjanjikan sebagai pemimpin pemberantasan korupsi terdepan. Faktanya, riset ICW menunjukkan bahwa dukungan pemberantasan korupsi oleh Presiden dalam kurun September 2009 hingga September 2010, hanya 24% yang mengalami keberhasilan.

Sebenarnya, semua kebohongan tersebut adalah laten, sejak lama telah kita ketahui. Hanya saja, menghalangi orang yang gemar pidato untuk terus saja sesumbar rupanya bukan perkara mudah. Dari berabagai cara yang paling halus hingga demo anarkis, Pak Beye tetap tak bergeming. Corong telah menjadi kesehariannya. Berdiri di depan podium dengan air muka yang sedih.

Beginilah jika pemimpin yang juga berhasrat menjadi selebritis. Bohong bukan soal, yang penting pencitraan. Sesuatu yang sebenarnya kontradiksi, sebab kebohongan yang berulang justru menurunkan citra Pak Beye sendiri.

Namun, adakah suara para ulama itu menjelma menjadi sebuah gerakan. Sembilan kebohongan lama dan sembilan kebohongan baru Pak Beye bukankah sudah cukup bagi mereka untuk menyeru kepada umat bahwa negara sedang dibohongi. JIka cemoohan tidak cukup mengurangi kebohongan Pak Beye, mungkin ayat-ayat Tuhan adalah jalan terakhir dari semua kebuntuan.

Saya tidak ingin berandai-andai dengan segala kemungkinan dibalik seruan para tokoh agama. Revolusi atau tidak, semuanya mungkin saja. Tapi satu yang pasti, “Tuhan tidak penah tidur”.

Kamis, 06 Januari 2011

Pak Andi Herman, Penjas Yang Menyenangkan (Once Upon Time in SMADA 8)

Diantara sekian banyak pelajaran di sekolah, yang paling dinanti adalah pendidikan jasmani dan olahraga (penjas). Semua menikmati pelajaran ini. Alasannya banyak. Tapi yang paling utama, belajar di luar kelas menyenangkannnya bukan buatan. Serasa mahluk terjajah yang baru menemukan kemerdekaan. Belajar dalam kelas memang membosankan. Di bawah tekanan untuk menyelesaikan soal yang rumit, ditambah lagi sesak dan sumpek terus-terusan mengenakan seragam lengkap, sangat mengganggu psikologi kami.

Tapi bila bel sekolah berbunyi yang artinya jam pelajaran berganti dan saatnya mata pelajaran Penjas, “Eureka!” Seisi kelas bergemuruh, buru-buru ganti pakaian. Setelan putih abu-abu yang menjenuhkan dengan senang hati kami tanggalkan. Dalam suasana begini, sulit membedakan pasar subuh dengan kelas 2b. Hiruk pikuk terdengar dari setiap sudut kelas.

Suara cempreng Nurmi memekikkan telinga menyuruh kami yang pria segera keluar karena mereka mau ganti pakaian. Khawatir akan ada yang mencoba mengambil kesempatan melihat sesuatu yang tak pantas dilihat. “We laki-laki, cepat semua mi ko keluar!” teriaknya mendesak kami keluar kelas. Tapi dasar memang Pudding lale, selalu punya alasan untuk berlama-lama dalam kelas. Mengganti pakaian dengan tempo yang sangat lamban, atau bila telah keluar kelas, tiba-tiba ia mendobrak pintu dan pura-pura ada barangnya yang masih ketinggalan dalam kelas. Alasan klise, hampir berulang tiap pekan.

Belajar penjas memang menyenangkan. Sekalipun, hampir tiap minggu materinya itu-itu: Pemanasan 20 menit, setelah itu main voli. Maklum saja coy, di SMADA hanya voli olahraga favorit. Alasan lainnya, hanya ada lapangan voli di sekolahku itu. Sepertinya memang ada upaya menjadikan kami semua atlet bola voli. Ini tentu membosankab bagiku, sebab tidak sedikitpun minatku menekuni bahkan bermain olahraga yang kelihatannya gampang ini, hanya memukul bola agar melewati net dan menyeberang ke area lawan.

Guru penjas kami, namanya Pak Andi Herman. Mungkin karena dia guru olahraga, jiwanya selalu merasa lebih muda. Ia tampan. Sekilas mirip Menteri Pemuda dan Olahara saat ini, Andi Mallarangeng. Diantara semua guru, dia yang lebih supel. Tidak pernah segan atau pasang wibawa berlebih dalam menghadapi siswa. Kami menyebutnya, “guru gaul”

Juga karena dia guru penjas, baju kaos bertuliskan SMA Neg 2 Palopo dipadukan celana training serta topi pelindung kepala menjadi cirinya. Hampir tiap hari dia berpenampilan begitu. Penampilan yang membuatnya nampak 15 tahun lebih muda dari usia sebenarnya.

Mengamati caranya mengajar, menurutku, menjadi guru penjas ternyata tidak sulit. Hanya memandu siswa pemanasan dengan aba-aba sumpritan sekitar 15 menit, setelah itu mempersilahkan kami bermain voli sesuka hati sampai bel tanda waktu jam pelajaran habis. Mudah bukan? Ini jugalah yang membuat Shiar Rahman mulai saat itu meyakinkan dirinya bahwa satu-satunya cita-citanya adalah menjadi guru penjas. Mulia betul cita-cita kawanku itu.

Pak Andi Herman bersahabat karib dengan Pak Muhammadia. Kolaborasi keduanyalah yang banyak memotivasi kami lebih aktif dan kreatif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Di luar jam sekolah, kami sering bercengkerama dengan keduanya. Mulai dari menjadi pembina pramuka sampai menjadi guru pendamping rekreasi ke Latuppa bila menjelang bulan puasa. Untuk yang terakhir tadi, keduanya tidak pernah absen.

Seperti kubilang tadi Coy, Pak Andi Herman ini guru gaul. Hubungan kami tidak sekedar murid dan guru tapi juga hubungan persahabatan. Kedekatan emosional membuat kami kadang melampaui batas yang sepatutnya. Singkatnya, kami ini lebih banyak patoa-toai-nya. Terlebih Musdalia, kawanku bermata bola. Diantara kami, dia yang terbilang paling dekat dan paling patoa-toai kepada Pak Andi Herman.

Tapi Coy, sedikit mirip dengan Pak Muhammadia, kedisiplinan Pak Andi Herman juga sesuatu yang tak bisa ditawar. Kami boleh dekat, tapi kalau perkara disiplin, tidak ada dispensasi sedikitpun atas kedekatan itu. Tangan dan kaki beliau sewaktu-waktu bisa mengenai pinggul kami.

Kuingat betul, waktu itu, ada perlombaan cerdas cermat tingkat SMA se-Kota Palopo yang diadakan oleh Universitas Andi Djemma (UNANDA). Satu tim dari sekolahku diutus ke sana. Mereka adalah kawan-kawan seangkatanku. Spirit untuk mendukung teman menimbulkan niat kami untuk datang langsung mereka berlomba. Kami ingin menjadi saksi sejarah tegaknya supremasi smada di kota palopo. Juga berharap minimal kehadiran kami menambah semangat mereka menumbangkan lawan-lawannya.

Namun sayang, jadwal perlombaan bersamaan dengan jam belajar sekolah. Dan kejamnya lagi, kami yang bukan peserta tidak dibolehkan keluar sekolah sekalipun dengan alasan menjadi suporter penggembira kawan-kawan kami yang berlomba itu. Kupikir ini gila, bagaimana mungkin kami membiarkan kawan sendiri bertarung dalam cerdas cermat itu tanpa sokongan tepuk tangan pendukung. Bukankah dalam setiap pertandingan, satu senyum dari suporter saja bisa mengangkat berkali-kali lipat kekuatan petarung? Termasuk kawan kami yang bertanding itu, mana mungkin mereka bisa juara kalau mental mereka terlebih dulu babak belur diserang oleh gemuruh tepuk tangan suporter lawan. Pokoknya, niat kami bulat, kami harus kesana mendukung mereka.

Selasa, pertandingan cerdas cermat itu akan dimulai. Ada pelajaran matematika di jam pertama selanjutnya penjas di jam kedua. Untuk mata pelajaran pertama mustahil kami bolos. Bolos mata pelajaran Pak Muhammadia sama dengan bunuh diri. Nah, baru di jam pelajaran kedua itu kesempatan untuk ke UNANDA terbuka. Ide busuk ini keluar dari mulut si mata bola Musdalia. Memanfaatkan kedekatannya dengan Pak Andi Herman, ia menyarankan biar kami bolos saja di jam Pak Andi Herman. “Pasti tidak marah ji itu!” katanya memprovokasi kami.

Bujukan perempuan cantik memang sering membutakan. Terutama Wira, tidak peduli lagi benar salahnya ajakan itu, konsekuensi berat akibat bolos jam belajar ia kesampingkan dulu. Yang penting saat ini, bagaimana bisa hadir dan menyaksikan langsung pertandingan cerdas cermat. Apalagi, yang menjadi yang menjadi inisiator dari akal kancil ini adalah perempuan bermata bola, murid kesayangan Pak Andi Herman. Semua dijamin aman olehnya.

Setelah jam pelajaran matematika, bergegas kami satu per satu ke luar sekolah. Bermodalkan hubungan dekat dengan “Mama Yopi”, satpam sekolah, kami memperdayai dengan alasan izin sebentar mengambil baju olahraga yang tertinggal di rumah. Baik Wira, Aku, Jefri Bule, Dany, dan Musdalia, semua alasan kami sama. Tampang kami yang polos sedikitpun tak menyiratkan kecurigaan akan sebuah kebohongan besar dan rencana makar tersebut. Ia dengan gampangnya mengizinkan kami keluar dari gerbang sekolah walau ini haram bagi siswa selama jam belajar.

Kami melenggang keluar gerbang sekolah. Senangnya bukan main. Ada beberapa alasan kami begitu senang pagi itu. Pertama, karena bolos memang mengasyikkan, terbebas dari belenggu aturan akademik. Batas teritori kekuasaan akademik Mama Yopi hanya sepanjang pagar sekolah, di luar itu kami bebas. Kedua, janji untuk menonton teman-teman kami pun terbayar sudah.

Sesampai di UNANDA, kami berlima mengambil posisi duduk tanggung. Tidak begitu dekat dari depan juga tidak jauh di belakang. Dari posisi duduk, kami dapat menikmati lomba cerdas cermat itu.

Bel tanda pertandingan dimulai. Gemuruh tepuk tangan meredakan ketegangan Hafirah, dkk yang semula duduk di kursi panas tampak keukeh. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari dewan juri. Beberapa dijawab oleh tim sekolah kami, tapi sebagian besar direbut oleh sekolah lain. Hafirah yang jagoan sekolah kami, dari kelas 1 sampai kelas 2 tidak pernah ebrgeser dari rangking satu (1) hanya bisa cengengesan melihat tim lawan lincah menekan bel dan menjawab semua pertanyaan juri.

Tim kami kalah, juaranya SMA 1 Palopo. Suporter sang juara tidak pernah surut meneriakkan yel-yel menikmati kemenangan tim mereka. Karena sekolah mereka lebih dekat dari arena, jumlah suporternya pun jauh lebih banyak. Riuh teriakan kemenangan bak serdadu Alexander Agung yang baru saja menaklukkan Kekaisaran Persia. Mereka betul-betil menikmati kemenangan ini, tak peduli sedikitpun menjaga perasaan kami yang telah dikalahkan. Sebagian dari mereka bahkan memandang kami dengan wajah setengah mengiba setengah angkuh. Kutebak, dalam hatinya pasti berucap, “kasian mu, pulang ko dulu belajar deh!” Arggggh, ingin rasanya kututup wajah ini.

Musdalia yag sedari tadi senang karena bisa bolos dari sekolah, juga tak bisa menyembunyikan wajahnya yang semula merah merona menjadi merah padam. Penderitaannya terakumulasi dengan malu yang tak tertahankan sebab beberapa dari suporter tim juara adalah temannya sesama “anak gaul kota palopo”. Dan perlu kau tahu Coy, bagi “anak gaul”, dipecundangi sesama “anak gaul” adalah hal yang paling menyakitkan. Seperti idola mereka di infotainment, kalau artis yang satu harus dilengserkan artis pemula, maka ia akan sangat mendendam. Kurasa, begitu pula yang berkecamuk dalam dada Musdalia saat ini. Bukan karena tim kami kalah, tapi karena salah satu dari yang merayakan kemenangan adalah seterunya dalam jagad “anak gaul kota palopo”.

Wira dan Jefri tidak kalah jengkelnya. Tidak ingin berlama-lama tenggelam dalam kekalahan ini. Mereka bergegas keluar ruangan. Berada dalam kondisi seperti ini, sepertinya memang benar bahwa setiap kita sebenarnya tidak pernah siap dengan kekalahan. “Siap menang siap kalah” hanya jargon. Kita hanya siap menang, sementara kekalahan, apapun caranya, sebisa mungkin dihindari, sebab derita menanggungnya tiada tara.

Sepulang dari menyaksikan lomba itu, kami memilih langsung kembali ke sekolah. Niat untuk singgah di warung “Bakso Lumayan” seketika diurungkan. Selera makan kami hilang, lidah terasa kelu, makanan apapun yang masuk rasanya tawar.

Sesampai di gerbang sekolah, kami langsung menuju kelas. Beruntung, Mama Yopi yang biasanya stand by di gerbang sedang tidak berada di tempatnya. Namun, cerita lain ketika kami memasuki ruang kelas 2b. Penderitaan kami berlanjut. Kabar bolosnya kami tercium oleh Pak Andi Herman. Rupanya, pada saat pemanasan olahraga, beliau mengabsen satu per satu siswa. Beliau heran ketika memanggil nama kami dan tidak ada dalam barisan. Dan dasar Mariati tukang lapor. Ia memberitahu Pak Andi Herman kalau kami ini bolos kelas jam Penjas karena pergi menonton perlombaan cerdas cermat. Marahnya tidak tertahankan, Pak Andi Herman berjanji akan memberi hukuman yang setimpal atas perbuatan makar ini.

Seusai jam keluar main, beliau telah mengambil posisi menunggu di dalam kelas. Kami berlima, yang dipimpin Musdalia, murid kesayangan Pak Andi Herman, hanya bisa tertunduk lesu. Kenyataan bahwa kami dekat dengan Pak Andi Herman tidak dapat membantu hari ini. Kemarahan Pak Andi Herman tidak terbendung lagi.

Menunggu sampai semua siswa masuk ke dalam kelas, kami berlima dibiarkan berdiri di depan. Seakan beliau ingin mempertontonkan ke seluruh kelas akibat bagi mereka yang mencoba bolos. Posisi kami saat ini mengingatkanku dengan kisah Santo Valentinus yang diarak ke tengah kota dan dihuk mati oleh kaisar Claudius II karena mencoba berhubungan dengan seorang wanita, hal yang paling diharamkan bagi Romawi. Hari ini, kami adalah Santo Valentinus, pembangkang yang bersiap menerima ganjaran. Pak Andi Herman memulai eksekusinya. Bermula dari ujung kiri. Tangan kasar Pak Andi Herman mengayun keras ke punggung Musdalia, selanjutnya Dani, Wira, saya dan terakhir Jefri “Bule”. Selain sakit karena pukulan itu, lagi-lagi kami harus menanggung malu di depan kelas. Kulihat wajah Andro setengah mati menahan tawa. Menderita betul, seharian menjadi pesakitan. Begitulah Coy, satu perbuatan bodoh hanya mengakibatkan serangkaian penderitaan.

Seminggu lebih kami tidak bersua dengan Pak Andi Herman, setiap kali melihat beliau dari kejauhan, kami selalu mencari jalan agar menghindar darinya. Malu dan takut mewakili perasaan kami pada beliau. Sampai pada jam penjas pekan berikutnya, saya memberanikan diri mendekat, “Apa? Mau ko bolos lagi?” katanya dengan nada berseloroh. Tawa kami pun pecah, tidak sedikitpun ia menyimpan kemarahannya yang lalu. Kembali pada keadaan semula, ia tetap menjadi “guru gaul” di sekolah ini. Sementara Musdalia, juga tetap menjadi “anak gaul kota palopo”.

Pak Laode dan EYD (Once Upon Time in SMADA 7)

Sewaktu kuliah S1 dulu, beberapa kawanku berasal dari Muna. Tidak sulit mengenali bahwa mereka berasal dari Muna. Pada kebanyakan anak Muna, nama depan mereka selalu di awali dengan sebutan “Laode” bagi laki-laki dan “Waode” bagi yang perempuan.

Kalau dibilang orang makassar itu kasar, saya sangsi mereka bisa mengalahkan kasarnya orang Muna. Suku Muna memiliki karakter khas. Dari bicaranya saja, bikin orang gentar ketika beradu mulut dengan mereka. Sewaktu Ketua Senat di Fakultas Ekonomi Unhas, beberapa pengurusku berasal dari Muna. Dalam setiap diplomasi dengan birokrasi kampus, aku selalu mengajaknya turut serta untuk sekadar menunjukkan bahwa kami tidak kalah nyali. Belum lagi perawakan mereka, khas orang kepulauan. Garis wajahnya menandakan mereka sering bermain-main dengan karang dan ombak, lekukan otot lengannya cukup untuk menjelaskan betapa hidup mereka penuh dengan kerja keras.

Juga sebagaimana suku lainnya yang memiliki karakter keras, mereka selalu punya idealisme tersendiri. Konsistensi terhadap komitmen tidak perlu diragukan dari mereka. Sekali kita bersepakat tentang sesuatu hal, maka jangan berani kau langgar sebab mereka juga tidak akan keluar dari koridor yang disepakati.

Kuperhatikan juga, kawan-kawanku dari Muna memiliki nasionalisme yang tinggi. Kepekaan terhadap kondisi negara yang semakin terpuruk mendorong jiwa pemberontakan kebanyakan anak muna. Makanya, tidak sedikit anak Muna yang datang kuliah di Makassar juga terlibat aktif dalam wadah-wadah pergerakan mahasiswa. Di forum-forum jalanan, mereka selalu di garda terdepan meneriakkan kebebasan, keadialan, dan ganyang korupsi.

Kalau dulu Soekarno pernah bilang “Bawakan sepuluh pemuda kepadaku maka akan kubangun negeri ini”, maka aku pun yakin diantara sepuluh pemuda yang dimaksud Soekarno, salah satunya mesti lahir di Muna.

Dan aku pun percaya, metafora Soekarno tersebut lebih tepat disematkan pada pri ini. Namanya Laode Ali, kelahiran Muna, guru Bahasa Indonesiaku, sekaligus Waliku di Kelas 3 IPA1.

Meski tidak berada di barisan terdepan sebuah demonstrasi atau gerakan-gerakan revolusi, tapi bagiku tidak keliru jika menyebutnya sebagai “agent of change”. Perubahan tidak harus selalu datang dalam wujud revolusi tapi juga evolusi. Perannya dalam perbaikan bangsa memang tidak seekstrem beberapa teman kampusku yang juga dari Muna yang harus pasang badan berteriak lantang kepada penguasa yang bertingkah melampaui batas kekuasaanya. Perannya sederhana, cukup berdiri di depan kelas beberapa jam, memberi petuah dan meluruskan kami dalam berbahasa. Tapi, dampaknya luar biasa positif, minimal untuk beberapa tahun ke depan.

Hasil dari tugasnya tidak hanya euforia sesaat, lebih dari itu, ia berhasil melahirkan anak-anak bangsa yang bisa mebuat bangsa ini bermartabat. Beberapa garis lahir dari pengajaran bahasa Indonesianya. Ada Wira, Andi Jais, Nober yang kini jadi polisi menjaga keutuhan negara ini dari gangguan keamanan. Juga ada Ita, dan Leha, bidan delima yang sedia setiap saat membantu setiap ibu melahirkan bibit unggul negeri ini. Secara tidak langsung, beliau juga turut andil dalam menyukseskan misi Indonesia Sehat 2010, ini karena beberapa muridnya seperti Al Adeka, Tira, Isra, dan Arsyiah kini menjadi dokter puskesmas menyuntik setiap yang sakit agar negara ini terbebas dari penyakit. Itu belum termasuk, Ani, Shiar, Asri Sulkaedah, Ani Nakir, Lebbiati, Erika, Hafirah, pemegang tongkat estafet melanjutkan perannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kusebut satu persatu, saking banyaknya.

Tapi jangan kau kira peran ini gampang Coy. Sulitnya bukan main. Anak-anak kampung yang norak macam kami sangat sulit untuk dibuat mengerti bagaimana berbahasa yang baku. Sekalipun tidak seperti beberapa daerah yang biarpu di sekolah masih menggunakan bahasa daerah, tapi bahasa indonesia dalam keseharian kami jauh menyimpang dari ejaan yang disempurnakan (EYD).

Misi mulia Pak Laode adalah mengembalikan kami pada ejaan yang disempurnakan. Ini tidak mudah. Butuh usaha keras bagi Pak Laode meluruskan Lisma yang di kampungnya, di Malangke, bahasa bugis menjadi bahasa persatuan. Ia butuh metode mengajar yang tepat agar Lisma dapat mengurangi huruf “g” pada setiap penyebutan kata yang seharusnya berakhiran “n”. Okkots!

Atau mengajari Setri, kawan sekelasku yang blasteran Toraja-Rante Damai. Ini jauh lebih sulit lagi. Kebiasaan melafalkan kata yang mengandung huruf vokal “e” secara ekstrem harus diubah agar sedikit lebih kalem.

Terlebih lagi membiasakan Hajar totalitas dalam berbahasa Indonesia. Gadis Salu Tete ini punya kebiasaan buruk mencampur adukkan bahasa Indonesia dengan Bahasa Tae’. Maklum Coy, dikampungnya itu, bahasa tae’ adalah bahasa ibu.

Dan puncak tugas mulia Pak Laode adalah membantu sebagian besar kami, terutama anak perumnas dari kesesatan berbahasa.

Kuceritakan sedikit coy. Di perumnas ini, entah kapan mulainya, ada sebuah bahasa yang secara historis tidak memiliki akar budaya yang kuat namun telah mengakar pada kebiasaan berbahasa generasi mudanya. Namanya “Bahasa Bale-bale”. Sebenarnya, memahami bahasa ini sangat mudah. Bahasa bale-bale’ digunakan dengan cara mengganti/mengubah atau menukar posisi setiap huruf vokal yang ada di dalam setia kata. Misalnya, “Sipa nimamu?” artinya “Siapa namamu?” atau “Diminako tanggil?” yang berarti “Dimana tinggalnya?”. Gampang bukan?

Seperti kubilang tadi, bahasa bale-bale’ ini tidak jelas siapa yang pertama kali menggunakannya dan kapan. Ku buka mesin pencari google,tak satupun informasi mengenai bahasa ini kutemukan. Kau bisa bayangkan betapa ekslusifnya bahasa bale-bale’. Sering dalam hati ku memuji kehebatan pencipta bahasa ini, bisa menghegemoni generasi muda perumnas.

Saking ekslusifnya, bahasa bale-bale’ bisa digunakan untuk tujuan tertentu. Bagi yang berkutat dengan hal-hal yang berbau spionase, bahasa bale-bale’ dapat pula berfungsi sebagai bahasa sandi. Namun, kecurigaan saya, bahasa ini bukan sandi yang dibuat khusus oleh para penegak hukum. Justru, awalnya mungkin bahasa ini dikembangkan sebagai bahasa isyarat bagi sesama pencuri ayam kelas teri. Karena jika disimak saksama, bahasa bale-bale’ sangat lemah jika di ambil sebagai sandi untuk memata-matai para pelaku kriminal. Sangat mudah memahaminya. Hanya pencuri ayam kelas lorong atau pelaku kriminal level paling rendah seperti pencuri sendal dimasjid yang menggunakan bahasa bale-bale’ dalam setiap operasi busuk yang dilakukan secara berkelompok.

Pernah suatu malam, kira-kita dua per tiga malam, kudengar bunyi mencurigakan dari pohon jambu milik tetangga sebelah rumahku. Rasa-rasanya malam itu tidak ada hujan, angin malam juga berhembus tenang, tapi tiba-tiba pohon jambu itu bergoyang, daun yang rimbun pun berisik. Disela suara rimbun dedaunan, samar kudengar suara pria berserak, “atu oyim hatim ko imbal, tipa jingan ko rabut, na dangerki ninta arong”. Keeseokan harinya, ku dengar ribut-ribut tetangga, ayam jantan hitamnya raib semalam. Bahasa bale-bale’ memang luar biasa kan? koalisi antara preman tengik dibangun diatas bahasa tak karuan itu.

Dalam perkembangannya, bahasa bale-bale’ menjadi bahasa persatuan remaja perumnas. Bukan anak perumnas kalo tidak bisa berbahasa bale-bale’.

Bagi Pak Laode, gejala ini tentu pencemaran Bahasa Indonesia. Gejala patologi sosial dalam dunia perbahasaan. Sungguh kesesatan yang memprihatinkan. Dan adalah misinya untuk meluruskan ini. Sebuah misi suci penegakan kembali supremasi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Menandingi kemuliaan para founding father bangsa, peran ini tidak kalah hebat dengan apa yang di perbuat oleh pemuda 1928 yang menelorkan Sumpah Pemuda. Mulai betul tugas guruku ini.

Pak Herkulanus, Sang Oemar Bakrie (Once Upon Time in SMADA 6)

“Tas hitam dari kulit buaya
Selamat pagi!", berkata bapak Oemar Bakri
Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!"
Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi, memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu
..............................
Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri... profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri”


Masih ingat lagu ini coy? Tentu pasti kau ingat. Oemar Bakrie diciptakan Iwan Fals pada tahun 80an. Jauh sebelum sertifikasi guru diberlakukan. Lagu Oemar Bakri boleh jadi mewakili nasib guru kala itu. Hidup dengan penghasilan pas-pasan, mengajar dengan naik sepeda, dibebankan pekerjaan paling berat pula: mengubah setiap murid yang bengal menjadi seorang insinyur, menteri, bahkan presiden. Bayangkan coy, bagaimana hebatnya peran guru dalam tatanan kebangsaan kita tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka terima. Dari dulu, negara ini memang tidak pernah adil!

Segera kuingat Pak Herkulanus.

Jika disetiap zaman selalu ada segelintir orang yang memilih untuk berbeda dari kebanyakan, maka Pak Herkulanus adalah contohnya.Pak Herkulanus adalah anomali di zaman modern ini. Ia tidak seperti kebanyakan manusia modern yang selalu resah, hidup berlomba-lomba menyesaki garasi mereka dengan mobil buatan terbaru. Disaat, setiap ruas jalan macet karena antrian Xenia, Avanza, Hyundai, Mercedes, Camry; Pak Herkulanus masih nyaman mengayuh sepeda buntut miliknya. Pada sebagian rangka sepeda itu nampak telah karatan.

Kalau mau tahu coy, dia sebenarnya guru bahasa inggris. Tiap hari dia berbicara dalam bahasa inggris, pemikirannya jauh menjelajah ke sudut-sudut di negeri Lady Diana itu. Dengan fasih ia bercerita tentang orang eropa yang royal tapi disiplin. Kalo sudah begitu, seluruh tubuhnya akan meliuk-liuk mengikuti alur ceritanya. Sambil sekali-kali mengibaskan rambutnya yang belah samping. Terkadang, ia juga menyanyikan lagu dalam bahasa inggris. Lumayan menghibur.

Tapi Coy, yang megherankan, belum satu kali pun kakinya menapaki jalan-jalan disana atau menikmati lampu-lampu malam kota London. Bahkan kucuriga, naik pesawatpun belum pernah. Semua yang dituturkankan pada kami diperoleh hanya melalui buku-buku teks bahasa Inggris. Keistimewaan buku Coy, bisa menembus jarak bahkan waktu sekalipun.
Dengan buku, ia dapat membayangkan sungai seine membelah jantun kota Paris meski sebenarnya posisinya hanya di bantaran Sungai Saddang di pinggiran Toraja. Buku pula dapat membawanya ke masa lalu mengenang keperkasaan Napoleon Bonaparte menaklukkan zamannya.

Sekali waktu, saya berpapasan dengannya. Beliau sepertinya baru saja belanja barang keperluan sehari-hari di pasar sentral palopo. Aku yang mengendarai motor memperlambat laju supaya dapat menyapa beliau. Kuperhatikan bagaimana beliau mengemudikan sepeda tua yang telah setia menemaninya berpuluh tahun. Tidak sepintaspun terlihat dari raut wajahnya mengeluhkan hidup. Sepeda tua itu tidak perlu membuatnya bermimpi tentang Daihatsu atau Toyota. Mengayuh sepeda, bisa membantu dua pekerjaan sekaligus: belanja ke pasar sekalian olahraga. Itu saja sudah sudah cukup melebarkan senyum kepada setiap yang ia temui di pinggir jalan. Sekali-kali, diatas sepeda tunya itu, dengan penuh percaya diri ia mengibaskan rambutnya yang belah samping mengikuti arah sisi belahan rambut terpanjang. Kalian tentu ingat aktor Steven Chow? Kutaksir, di masa mudanya, guru mungilku ini mungkin memiliki kemiripan dengan aktor asal Cina itu. Tampan sekaligus humoris.

Jika saja pengaturan jam mengajar bisa melibatkan siswa. Maka aku mengatur sebisa mungkin agar jam mengajar beliau tidak berada di sela antara jam keluar main kedua dan jam pulang. Di sisi ini, guruku ini sangat mengesalkan. Macam mana tidak mengesalkan, jam keluar main yang hanya 15 menit, ia sabotase dengan cara masuk sebelum 5 menit sebelum bel tanda keluar main selesai berbunyi. Arggh, bayangkan coy, waktu 15 menit yang bagiku adalah segalanya: untuk makan, “menyambar” anak kelas satu, berceloteh dengan kawan sekelas. Sempit sekali bukan? Mana lagi harus dipotong 5 menit oleh Steven Chow. Ahh, mustahil bisa melakoni smeua tadi dalam 10 menit. Makan nasi telur seribu “mama-nya Anna” saja butuh waktu 5-10 menit, jadi mustahil bisa menyambangi ade kelas yang ditunjukkan Andro tempo hari.

Jangan kau kira setelah itu penderitaan akan berakhir. Guru ini memang luar biasa semangat mengajarnya. Tidak cukup merenggut waktu keluar main kami, ia tambah pula cermahnya 10 menit dari jam pulang sekolah. Ah, mana perut sudah keroncongan, melihat Dewi Iting terus-terus menguap, rasa kantuk pun menjalar ke seluruh bagian tubuhku.

Dari semua ceramah beliau setiap kali jam pelajaran berakhir, hanya satu yang aku ingat persis, beliau bilang begini “Biar kalian pintar matemtika, fisika, kimia, ekonomi, tapi kalo tidak bisa bahasa inggris, tidak ada gunanya”. Belum kupaham maksudnya waktu itu. Petuah itu masih terngiang, hingga kurasakan betul kebenarannya 8 tahun kemudian disaat mendaftarkan diri mengikuti program magister sains di UGM. Bahasa Inggrisku yang levelnya sangat dasar harus kewalahan menghadapi persyaratan toefl. Untunglah, tak ada karma atas dosa “patoa-toai” kami kepada Pak Herkulanus, restu dan doa beliau menyingkirkan setiap halanganku dalam melangkah memeluk setiap impian.

Mistar maut Pak Muhammadia (Once Upon Time in SMADA 5)

Bagi Pak Muhammadia, mistar adalah perlengkapan wajib selain buku bila beliau mengajar. Tidak hanya karena beliau adalah guru matematika. Namun, mistar bagi beliau adalah alat khusus yang dapat membantu beliau memudahkan kami memahami pelajaran mematikan itu. Coy, mungkin kau bingung bagaimana mungkin mistar yang secara umum diketahui hanya berguna untuk membantu menggaris tiba-tiba saja dapat membantu kami paham matematika?

Sebelum kau tahu tentang rahasia mistar Pak Muhammadia, ingin kuceritakan dahulu padamu tentang guruku yang satu ini.

Bagi anak SMADA, nama beliau cukup tersohor. Bahkan beberapa kami, mendengar namanya saja, bikin bergidik bulu roma. Ku yakin, dalam hati setiap siswa SMADA bermunajat, semoga guru klimis ini tidak akan menjadi pengampu mata pelajaran matematika. Berharap, biar Pak Batang atau Pak Maikel saja yang mengajarnya. Namun, tidak semua doa itu terkabul. Biar bagaimanapun, Pak Muhammadia adalah guru SMADA yang artinya beberapa kelas yang mungkin do’anya setengah-setengah harus bersiap dengan segala kemungkinan terburuk: merasakan mistar maut Pak Muhammadia beserta cemoohan karena soal semudah persamaan linear sekalipun tidak bisa diselesaikan.

Nama Pak Muhammadia hanya kukenal lewat teman-temanku alumni SMP 2. Sebelum mengajar di SMADA, beliau sempat mengajar di SMP 2. Mungkin karena prestasi atau kemampuan mengajarnya yang lebih pantas untuk level SMA sehingga beliau naik kasta mengajar di SMADA. Dari beberapa cerita temanku, tak satupun dari mereka yang berkomentar kalau Pak Muhammadia itu baik. Perlu kau ketahui kawan, penilaian baik atau tidaknya siswa atas gurunya bukan dalam artian baik yang sesungguhnya. Melainkan baik yang dimaksud disini adalah; guru yang jarang memberi tugas rumah, guru yang jarang marah-marah dalam kelas sekalipun kelas itu gaduh, guru yang tidak pelit dalam urusan nilai, dan yang terpenting tidak pernah memberikan sanksi berupa dilempar kapur, dicubit, atau di cambuk mistar.

Dan dari semua kategori baik di atas, katanya, tidak ada barang satupun yang melekat pada diri Pak Muhammadia. Bagi mereka, Pak Muhammadia adalah sosok tegas, disiplin, tidak boleh salah, rajin, detail, dan rapi. Di usia remaja yang penuh dengan “main-main”, diajar Pak Muhammadia serasa berada di dalam neraka yang menyiksa baik batin maupun fisik.

Simpelnya begini, semua yang menakutkan tentang seorang guru, katanya, ada pada Pak Muhammadia.

Dan pada penaikan kelas kali ini, terdengar kabar, guru matematika kelas 2a sampai dengan 2 c adalah beliau. Mati mi ja! Aneh betul, persepsi kami jauh melampaui realitas. Belum ketemu orangnya, ketakutan kami telah melebihi ketakutan anak kecil pada polisi atau satpam sekolah. Apalagi, di kelas 2c ada Baso yang bila bercerita hiperbolanya bukan main. Sebagai alumni SMP 2 dan merasa memiliki otoritas untuk bercerita tentang Pak Muhammadia, Baso mengarang cerita sedemikian menyeramkannya mengenai mantan gurunya ini. Pada posisi seperti ini, kami ibarat akan berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa.

Hingga hari itupun tiba, beliau melangkah dengan tegaknya menuju kelas kami, kelas 2b. Di kursi masing-masing, kami kaku, diam, bibir rapat, seperti pesakitan yang menunggu giliran dihukum. Saat memasuki ruang kelas, ia tersenyum dan kami, sekali lagi, hanya terdiam. Dari senyumnya seolah tergambar, “aih awas memangko,”. Sungguh menyeramkan. Beginilah akibatnya Coy jika terlalu banyak mendengar cerita tentang orang lain dari orang yang lain pula. Pencitraan kita kadang melampaui batas yang seharusnya. Dan kami sepertinya telah dilanda penyakit itu. Ketakutan kami kepada Pak Muhammadia jauh melampaui pemahaman kami yang sebenarnya mengenai beliau. Sebuah kedurhakaan yang luar biasa, menjustifikasi guru semisal frankeinstein, sementara mengenalnya pun belum pernah, hanya berdasar “menurut si ini”, “katanya si anu”. Maklum saja, tabiat orang Indonesia memang begitu, akibat terlalu sering nonton infortainment.

Di dalam kelas, Pak Muhammadia memandangi kami satu per satu. Sebuah tatapan perkenalan kelas. Dan akhirnya Ahmad “Ittong” Junaedi lah yang menjadi pemecah rekor sebagai orang pertama yang kena semprot. Dasi Ittong rupanya ketinggalan di rumah. Untung saja ini adalah pertemuan pertama, ia hanya kena marah dan peringatan untuk tidak mengulangil lagi. Huu,, kesan awal yang menyeramkan, mungkin benar yang dibilang anak-anak SMP 2 itu.

Hari-hari selanjutnya, kami semakin terbiasa dengan Pak Muhammadia. Rupanya, kesan bahwa Pak Muhammadia galak, tidak sepenuhnya benar. Pada beberapa kali, beliau berseloroh di depan kelas, kami pun menyambutnya dengan tawa setengah-setengah, setengah ingin ketawa karena memang lucu, setengahnya lagi masih menyimpan rasa takut.

Tapi itu tidak berlangsung lama, setelah itu kami harus kembali menyelesaikan soal logaritma. Bila salah, bersiap saja merasakan pedisnya mistar sepanjang 1 (satu) meter. Dan kali ini giliran Lisma, Musdalia, Andro, Puddink, Dani, dan Jefri Bule yang kena mistar itu.

Setelah kuperhatikan, sepertinya tidak ada satupun orang di kelas kami yang tidak pernah merasakan mistar maut Pak Muhammadia. Tidak peduli perempuan atau laki-laki. Proporsinya tetap sama. Seolah Pak Muhammadia ingin memperlihatkan, “bukankah ini mi bentuk kesetaraan gender yang kalian perjuangkan, rasakan ini!!”

***
Perlahan saya mulai menikmati pelajaran matematika pak Muhammadia. Beberapa hal yang sebelumnya sulit kuphami, kini dapat sedikit-sedikit ku cerna. Cara pengajaran beliau rupanya lebih pas bagi kami untuk bisa dengan mudah memahami matematika. Serperti kubilang diawal Coy, ini juga berkat bantuan mistar maut itu. Dengan cara begitu, kami dipaksa untuk memahami dan menyelesaikan soal-soal dengan benar.
Komitmen mendidik Pak Muhammadia kurasakan betul bila jam keluar main tiba. Beliau memanggilku dan beberapa teman sekelasku ke ruang guru. Disana, ia menyerahkan sepucuk kertas yang berisi satu soal yang harus diselesaikan sebelum jam keluar main selesai. Tapi dasar ABG tidak tahu diuntung, aku selalu memandang itu sebagai beban dan hanya menyita waktuku untuk bertandang ke kelas 1. Bagiku, satu-satunya kesempatan untuk bisa berkenalan dengan adik kelas hanya padda waktu jam keluar main. Dan kesempatan itupun direnggut oleh soal yang sangat mengesalkan itu. Ah, Bapak ini betul-betul mematikan potensiku saja.

Esoknya demikian juga, harus pada saat jam keluar main. Sering ingin ku mengelak atau berontak kenapa bukan di luar jam keluar main saja, supaya ada waktu untuk urusan tulang rusuk kiri ku ini mencari potongannya yang hilang. Tapi biar bagaimanapun,rasa takutku pada beliau membunuh semua keberanianku untuk berontak. Sementara Andro, kulihat dia begitu menikmati perkenalannya dengan Ipa. Hubungan mereka akan semakin akrab saja. Sampai akhirnya kudengar, Andro mundur tanpa kabar sebelum “menyet”. Sudah kuduga, anak ini punya masalah dengan nyali mengungkapkan perasaannya. Dalam hati kupikir, apa susahnya untuk bilang “I love you!” atau “Maukah kau menjadi pacarku?” atau kalau mau sedikt lebih romantis “setelah kutimang-timang, sepertinya kepingan mozaik hidupku yang tercecer itu ada padamu, sediakah kau menyempurnakannya?” Sangat gampang bukan? Tidak pelu banyak bicara cukup kalimat singkat itu saja. Tapi, ya entah kenapa bibirnya selalu keluh ketika hendak menyampaikan kalimat pendek itu saja. Ah, cinta memang sulit dimengerti coy. Ribet sekali.

Hubungan kami dengan Pak Muhammadia semakin akrab saat kami aktif di pramuka dan beliau dipercaya sebagai pembina pramuka. Dari situ, saya melihat beliau dari sudut pandang yang lain. Antara beliau yang di dalamkelas dengan beliau sebagai pembina pramuka ada perbedaan yang amat jauh.

Kalau di dalam kelas, beliau menjadi momok yang menakutkan, namun di dalam tenda beliau adalah sosok yang bersahabat. Kalau dipancing, ceritanya akan mengalir sepanjang sungai Latuppa, saking panjangnya. Dan bila kembali ke kelas, mistar mautnya tetap genit untuk menyentuk pinggul siapa saja. Sering ku bertanya dalam hati, sebenarnya yang manakah beliau yang sebenarnya? Apakah guruku ini seperti yang sering disebut oleh para pakar psikologi sebagai orang yang berkepribadian ganda.
Atau, semua kekejaman ini hanya topeng untuk mendidik kami, padahal sebenarnya beliau adalah seorang penyayang luar biasa. Tapi bagaimanapun dia, hari itu kembali kami harus merasakan dahsyatnya mistar maut itu. Kompensasi karena tidak menjawab berapa luas segitiga bersisi empat. Oh, bodohnya kami!