Minggu, 12 Juni 2011

Sedikit Seputar Balanced Scorecard (BSC)


Di sebuah warung makan pagi tadi, secara tidak sengaja saya semeja dengan seorang karyawan swasta. Ia memperkenalkan diri sebagai auditor internal di perusahaannya. Diskusi kami berlanjut saat ia mengetahui saya adalah mahasiswa akuntansi. Dan dari cerita yang terus mengalir, tiba-tiba ia menyinggung soal balanced scorecard.

Kebetulan dulunya ia juga mahasiswa akuntansi. Berbekal pengetahuan teoretis dan pengalaman kerjanya, ia begitu semangat bercerita seputar balanced scorecard (BSC). Biasanya, bila bertemu dengan mereka yang memiliki begitu banyak pengalaman, saya lebih memilih tidak banyak ngomong dan mendengarkan saja.

Katanya, Norton dan Kaplan ngawur saat merumuskan BSC. Berdasarkan pengalamannnya, BSC tidak lebih dari fantasi Kaplan dan Norton. BSC sangat ideal dalam teori namun fakatnya tidak pernah bisa seideal bayangan semua pihak. Begitu banyak perusahaan yang menerapkan BSC namun tidak pernah mencapai hasil maksimal. Perusahaan teman diskusi saya juga ini, katanya telah mencoba mengaplikasikan BSC dalam mengukur kinerja, dan hasilnya tidak memuaskan sebagaimana yang mereka inginkan. Malah, begitu banyak kebingungan oleh karyawan, terutama auditor internalnya, saat konsep ini diterapkan.

Ada benarnya juga, semenjak diperkenalkan pada awal tahun 90an, masih sedikit cerita sukses perusahaan atau lembaga pemerintah yang mampu memetik hasil dari penerapan BSC. Makanya, diskusi tentang BSC masih berlanjut hingga hari ini, terutama dalam upaya menemukan konsep ideal yang mampu diadopsi oleh semua perusahaan.

Dan tiba-tiba saja saya teringat dengan kuliah Behavioral Accounting semester lalu. Beberapa artikel penelitian yang dibahas dalam mata kuliah tersebut mengupas soal BSC. Pertanyaannya, ada apa dengan BSC? Benarkah BSC hanyalah konsep abstrak yang tidak pernah bisa dibumikan atau jangan-jangan masalahnya ada pada pengguna yang tidak paham betul dengan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Kaplan dan Norton?

Telah ada begitu banyak peneliti yang mencoba menggali kenapa BSC masih belum mampu optimal. Salah satu penelitian yang cukup populer dalam akuntansi manajemen adalah penelitian Lipe dan Salterio di tahun 2000. Keduanya mencoba menejelaskan kenapa BSC masih belum optimal. Mereka memperkenalkan istilah common measures dan unique measures. Penelitian keduanya menunjukkan adanya permasalahan kognitif dalam penerapan BSC, dimana sebagian besar para pengguna BSC masih menggunakan common measures ­daripada unique measures ketika mengukur kinerja. Dalam hal ini,yang dimaksud common measuers adalah ukuran kinerja yang berlaku umum pada setiap unit/divisi. Sementara unique measures adalah ukuran kinerja spesifik untuk satu unit/divisi sesuai dengan karakteristik divisi/unit tersebut.

Untuk memahami perilaku tersebut, setidaknya ada dua penjelasan yang bisa kita gunakan, yaitu bounded rationality dan heuristic. Bounded rationality atau keterbelengguan pengetahuanlah mungkin menjadi penyebab kenapa evaluator lebih cenderung menggunakan common measures ketimbang unique measures. Sebagaimana kata Simon (1957), “individual judgement is bounded in its rationality”. Bounded rationality disebbakan kurangnya informasi, keterbatasan waktu dan biaya, atau karena keterbatasan pada kecerdasan pengambil keputusan.

Penjelasan kedua yang dapat dipakai dalam memahami perilaku evaluator di atas adalah heuristic, yaitu kecendrungan setiap individu untuk menyederhanakan masalah/strategi (simplifying strategies) dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini dipaparkan oleh Kahneman dan Tversky dalam penelitiannya.

Demikian sedikit hal yang mungkin bisa menjelaskan mengapa BSC masih sulit kita terapkan. Bukan karena Norton dan Kaplan yang berfantasi, melainkan kita yang mungkin belum makasimal menggunakan BSC sebagaimana maksud Kaplan dan Norton.

Bingung ya? Sekali-kali kita bercerita yang sedikit ilmiahlah Boy, Hehehe,,,,

Jumat, 03 Juni 2011

Ini Dia “Mr. A” yang Dituding Obok-obok Demokrat

Mengikuti kisruh Partai Demokrat ibarat menonton sinetron Putri yang ditukar, masalah silih berganti tanpa penyelesaian yang jelas. Dalam sinetron “putri yang ditukar” misalnya, belum selesai masalah Prabu, eh datang lagi masalahnya Amira, ckckckc,,,,. Begitupun dengan partai biru ini, belum selesai kasus suap Nazaruddin, Dewan pembinanya yang gemar pidato itu tiba-tiba bikin geger, lagi-lagi dengan air muka sedih ia umumkan ke publik bahwa ia sedang di fitnah. Biasalah Boy, pemimpin kita ini memang lebay, lebih senang bila rakyat kasihan padanya ketimbang menempatkan dirinya sebagai tauladan.

Dan tadi malam, saya menonton berita, seorang petinggi partai itu, Ramadhan Pohan, lagi-lagi kembali menabuh genderang, Katanya, semua kisruh di partainya, tidak lain karena ada pihak eksternal yang mencoba menjadikan partainya public enemy. Ah, aya-aya wae!

Katanya, orang itu adalah politisi dari luar partainya. “Mr. A”, demikian inisial orang yang katanya mencoba mengirim fitnah dan menysupi partai Demokrat. Tapi, siapa Mr. A?

Sampai dengan tadi siang, saat saya membaca kompas.com, semua pemberitaan masih seputar teka-teki siapa Mr. A yang dimaksud. Jangan-jangan, ini hanya akal-akalan mereka saja untuk memutarbalikkan opini publik. Orang-orang dalam partai ini memang punya kebiasaan mirip ketua dewan pembinanya, senang meraih simpati publik dengan menempatkan diri mereka sebagai yang teraniaya.

Tapi, jangan-jangan memang sosok “Mr. A” itu benar adanya. Tapi siapa? Melalui info di akun facebook, saya mendapat foto orang yang di maksud Mr. A tersebut. Mau tahu siapa orangnya? Berikut ini gambarnya:



Arkam Syahrir. Benarkah beliau orangnya? Kalau beliau sih bukan perusak partai demokrat, tetapi penjinak hati anak gadis orang. Hehehe, Just a joke Boy, Karena negeri ini butuh hiburan,

Rabu, 25 Mei 2011

Jama’aah Oh Jama’aah,


Ustas Nur Maulana. Bagi yang tiap pagi menonton trans tv, pasti mengenal beliau. Ustas asal Makassar yang belakangan menjadi tenar lewat sapaan khasnya, “jamaah oh jamaah”. Tidak hanya itu, gaya lelucon beliau menjadi pembeda dengan ustas-ustas yang lainnya.

Sebenarnya, saya mengenal ustas nur jauh sebelum beliau muncul di tv. Sebelumnya, melalui sebuah rekaman amatir, saya mendengarkan ceramah beliau di sebuah acara ta’ziah. Beliau mulanya adalah penceramah dari kampung ke kampung di wilayah sulsel, dan kemudian membuat saya terkejut ketika melihatnya di trans tv beberapa waktu lalu.

Yang luar biasa dari Ustas Nur, waktu saya menontonnya di video amatir, ia mampu
menghibur para keluarga almarhum. Acara ta’ziah ia ubah menjadi panggung lelucon, semua yang hadir sejenak melupakan kesedihan atas kematian keluarganya.

Dan saat beliau tampil di tv, gaya ceramahnya pun tidak berubah. Pesan agama ia sampaikan dengan gayanganya sendiri, badannya yang meliuk-liuk serta wajahnya yang ekspresif membuat semua pendengarnya terkekeh-kekeh.

Dalam hati saya bertanya, mungkinkah ini jawaban atas segala kekhawatiran kita, dimana masjid mulai ditinggalkan, dan ceramah ustas hanya didengarkan oleh mereka yang memliki penyakit susah tidur. Atau, ceramah dengan gaya lelucon adalah alternatif atas fenomena “motivator”, dimana masyarakat lebih gemar mendengarkan Andrie Wongso, Mario Teguh, dkk ketimbang mendengarkan ayat-ayat Tuhan oleh para ustas kita.

Sebulan lalu, disebuah warung kopi di Makassar, seorang sahabat yang juga wartawan protes kepada saya. Ia protes karena waktu itu saya mengatakan bahwa Ustas Nur sebenarnya tidak ada bedanya dengan Sule, Tukul, Wendi, dan Parto. Kawan tersebut pegal hati, rupanya ia salah satu pengagum Ustas Nur. Katanya, tidak bisa begitu, Ustas Nur setidaknya menyampaikan pesan agama dengan humor sementara yang lainnya hanyalah pelawak yang memang bermaksud menghibur bukan menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Dan menurutnya, kita harus mengapresiasi Ustas nur yang telah menjadi magnet bagi masyarakat untuk mulai mendengarkan ceramah agama.

Tapi, menurutku, mereka tetap sama. Ustas Nur dan Sule adalah entetainer yang hanya membuat orang tertawa dengan gaya mereka yang kocak, tanpa peduli dengan benang merah dari apa yang mereka ceritakan. Lihat saja di OVJ, benang merah dari cerita mereka tidak begitu dipedulikan pemirsa, yang terpenting semua penonton tertawa. Sementara Ustas Nur, pengamatan saya (mudah-mudahan keliru), para pendengarnya sebenarnya juga lebih tertarik menertawai gaya beliau yang meliuk-liuk di atas mimbar dan ekspresi wajahnya yang dibuat lucu.

Dan pertanyaan inti saya sebenarnya, pantaskah ayat-ayat Tuhan menjadi lelucon seperti itu? Bertanya ji ka ini. Mungkin teman-teman ustas yang lain bisa membantu saya menjawabnya.

Sepertinya saya harus mengakhiri tulisan ini, Ustas Nur mulai memanggil di trans tv. Daripada nonton berita pagi tentang Nazaruddin, mending dengar ceramah beliau.
“Jama’aah oh Jama’aah”.

Kamis, 19 Mei 2011

Mari Bangkit!


Seperti sebelum-sebelumnya, mei hanyalah milik anak muda. Di bulan mei jalanan macet, anak-anak muda membanjiri jalan, berteriak, melontarkan sumpah serapah, yang tua kalang kabut.

Hari pertama di bulan mei diawali dengan kata “naikkan”. Para buruh yang sehari-hari bermandi peluh menjerit gaji mereka tak pernah naik. Pabrik-pabrik kosong, jalanan ramai. Pesta bulan mei dimulai. Sejenak, roda ekonomi terhenti, arak-arakan buruh membanjiri jalan-jalan kota.

Selang sehari, anak-anak muda terpelajar memekikkan kata “turunkan”. Mereka menyerukan pendidikan murah, biaya yang mahal harus diturunkan. Dan jika perlu, menterinya juga diturunkan. Pendidikan terlampau mahal bagi kebanyakan anak, pesta jalanan kembali digelar. Jika sehari sebelumnya, jalan kota hanya dipenuhi warna merah, maka 2 mei jauh lebih berwarna, jalan kota warna-warni. Almamater dari segala kampus meluber ke jalan-jalan utama.

Belum berakhir, pertengahan mei juga ada hajatan mahasiswa. Mereka memperingati kemenangan besar tiga belas tahun lalu. Reformasi, kata yang belakangan mulai digugat kembali. Bahkan, sebuah lembaga survey menunjukkan bila masyarakat lebih nyaman dengan Soeharto ketimbang SBY. Olehnya, anak-anak muda itu kembali galau. Pesta kali ini, kalau perlu dirangkai dengan reformasi jilid II.

Sebenarnya, saya mulai takut dengan kata reformasi, apalagi revolusi. Selain bahwa hanya ada darah yang akan mengalir, rakyat tidak pernah menang. Kemenangan setelahnya kembali dirampas oleh segelintir jongos kekuasaan .

Ya, namanya juga anak muda. Diusia yang lagi gemar-gemarnya berpesta, saya curiga tidak ada maksud lain dari semua itu selain bahwa kita hanya ingin bersuka ria di jalanan. Karena sebenarnya, kita tidak pernah siap dengan perubahan yang kita gelorakan. Begitu rezim jatuh, pesta usai, saatnya kembali ke kampus. Dan reformasi, kita kembalikan lagi kepada mereka di atas sana untuk kita turunkan lagi dilain waktu. Karena kelak kita masih ingin berpesta.

Hari ini, 20 mei, sepertinya jalanan kembali direbut anak-anak muda. Kebangkitan nasional, demikian tema pesta hari ini. Semalam, saya menonton karnaval yang diikuti oleh banyak anak muda. Mereka berjalan dari tugu jogja hingga kantor pos malioboro. Mereka memperingati hari kebangkitan nasional. Ya, sekadar memperingati. Dan cukup untuk malam ini saja. Setelahnya, kita kembali ke rumah masing-masing berjalan sempoyongan.

Tentang bangkit, kapan terakhir kali kita berdiri tegak? Tak jelas. Setahuku, dari semula bangsa ini juga hanya berjalan sempoyongan. Mereka yang di senayan sana tidak pernah bisa membuat kita tegak, apalagi yang di cikeas. Dan memang apa bisa yang diharapkan dari mereka yang hanya terobsesi dengan dirinya sendiri.

Mungkin anak-anak muda yang dijalanan sana yang bisa menjawabnya. Konon, mereka yang lebih dekat dengan rakyat. Tapi bukankah anak-anak muda itu juga asyik sendiri dengan pesta jalanannya. Larut dalam demonstrasi, puas bila aparat terkena lemparan batu. Tak ambil pusing dengan kaca mobil yang pecah, yang penting kita bergembira hari ini. Juga saya ragu, tidak sepenuhnya berkehendak sesuai dengan agenda yang digelorakan.

Dan akhirnya, untuk bangkit, rakyat memang tidak bisa lagi berharap pada siapa-siapa. Warga umbulharjo mulai melupakan musibah merapi kemarin, tidak juga lagi mengingat janji pemerintah. Mereka bangkit sendiri, tanpa pernah memperingati hari kebangkitan nasional. Karena untuk bangkit, hanya butuh kerja keras, bukan seremoni.

Mari bangkit!

Sabtu, 30 April 2011

Membangun Lembaga Jaminan Sosial bagi Seluruh Pekerja (Catatan May Day)


Di negeri ini kita memang tidak fair terhadap para pekerja informal. Gaji mereka yang sedikit tidak disertai dengan sistem jaminan sosial yang memadai untuk kelangsungan hidup saudara-saudara kita tersebut. Kebanyakan asuransi sosial, baik untuk kesehatan maupun untuk tunjangan pensiun hanya bagi mereka yang bekerja di sektor formal terutama bagi mereka yang PNS.

Kesadaran untuk mengikuti program jaminan sosial yang rendah sebenarnya tidak lain karena pemerintah tidak mampu menjadi stimulus terciptanya kesejahteraan para pekerja kita. Padahal, secara eksplisit ditegaskan bahwa tujuan negara adalah menciptakan kesejahteraan sosial. Dan pemerintah berkewajiban untuk itu. Mengenai definisi operasional kesejahteraan sosial yang seringkali dianggap masih abstrak sebenarnya kita dapat menengahi melalui standar of living,yaitu batas minimum apa yang mereka berhak mereka peroleh.

Pada tulisan sebelumnya saya menyebut jaminan sosial sebagai sebuah teknologi yang telah berhasil dikembangkan di beberapa negara, dan olehnya kita tidak perlu gengsi untuk mengadopsinya sesuai dengan konteks negara kita. Kita harus mengakui keberhasilan Australia dengan Centrelink-nya yang mengkoordinasi pelayanan publik dan jaminan sosialnya. Atau Medicare di Amerika dan program jaminan sosial lainnya yang dibawah koordinasi lembaga Social Security Administration (SSA). Atau bahkan dari negara kecil dengan anggaran terbatas seperti Filiphina telah memiliki lembaga Social Secirity System (SSS) yang menghimpun dana asuransi bagi pekerja dan menyalurkannya dalam bentuk tunjangan kesehatan, pensiun dan juga bagi yang melahirkan. Pendekatan cash contributory di Filiphina sebenarnya cocok bagi negara yang memiliki keterbatasan finansial.

Sehubungan dengan peringatan hari buruh, tulisan saya ini hanya mencoba mengingatkan pemerintah betapa pekerja di negeri ini masih jauh dari hidup layak. Fakta paling miris adalah nasib para TKI kita di Arab Saudi yang hidup di bawah kolong jembatan. Padahal mereka adalah pahlawan yang menyokong ketersediaan devisa negara.

Selain kewajiban negara untuk menyediakan benefit in kind, berupa layanan pendidikan kesehatan dan lainnya. Sebaiknya, pemerintah juga membentuk lembaga semisal Philipine Social Security Systems (SSS) yang menggunakan pendekatan cash contributory sehingga para pekerja kita tidak lagi bekerja hanya untuk hari ini tapi juga untuk hari esok. Mereka menyisihkan sebagian penghasilan mereka dalam bentuk iuran bulanan yang akan disetorkan ke SSS, dan SSS mengelola dana tersebut untuk disalurkan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Benefit dalam bentuk tunai diperoleh bagi mereka pensiun, sakit, melahirkan, cacat, dan meninggal.

Dan lembaga tersebut sebaiknya mengcover semua pekerja baik formal maupun informal. Di filiphina, sejak awal tahun 1990an, pemerintah telah mewajibkan semua pembantu rumah tangga mereka yang berpenghasilan di atas seribu peso untuk mengikuti program SSS. Dan bila pemerintah kita dengan segala kewenangannya mewajibkan semua pekerja indonesia untuk mengkuti program itu maka bukan tidak mungkin kita tidak lagi menghadapi persoalan kelaparan atau apa yang terjadi dengan TKi kita di Arab Saudi.

Hitung-hitungan kasarnya begini. Anggap saja, kita memiliki sekitar 20 juta pekerja dengan dengan rata-gaji minimum 1.000.000 rupiah. Karena ini hanya contoh, kita rata-ratakan saja semua berpenghaslan 1 juta. Dan dengan gaji tersebut, mereka harus menyisihkan 1% untuk iuran bulanan kesejahteraan ke lembaga kesejahteraan sosial, berarti sebesar Rp 10.000.000,-. Artinya, tiap bulan lembaga tersebut menerima dana sebesar Rp. 200.000.000.000,- (20 juta pekerja X Rp 10.000,-). Dengan demikian setahun sebesar Rp 2,4 triliun.

Dana yang besar tersebut, tentu tidak semua digunakan untuk membayar benefit ke anggota. Sebagian disisihkan untuk membayar benefit bagi anggota yang pensiun, sakit, cacat, melahirkan, atau meninggal. Dan sebagian lagi disihkan untuk investasi agar dana tersebut dapat berlipat. Hingga jumlah yang besar itu kelak tidak lagi membutuhkan sokongan anggaran negara.

Saya tidak ingin menafikan lembaga asuransi sosial yang ada hari ini, namun menurut saya lembaga asuransi sosial yang ada sekarang ini, semisal jamsostek, askes, dan asabri, tidak mampu mengkover seluruh pekerja di negeri ini. Oleh karena itu, sebaiknya dibentuk lembaga terkoordinasi oleh pemerintah sehingga semua pekerja dapat menikmati benefit bila mereka pensiun atau sakit.

Sabtu, 16 April 2011

Larasati

Dalam dunia artis yang penuh hingar bingar dan hasrat seks, revolusi sekalipun masih bisa dipekikkan.

Larasati tidak lahir di jaman ini. Ia tumbuh kembang pada zaman dimana merasakan kata “merdeka” tidak semudah mengucapkannya. Tubuh moleknya tidak berarti apa-apa selain hanya pelampiasan nafsu para hamba kolonial, penghianat revolusi.

Di jaman awal kemerdekaan, saat Belanda belum puas dengan penjajahannya, agresi NICA selanjutnya berhasil memojokkan para pimpinan tinggi revolusi ke Yogya. Tapi Larasati tidak. Ia tahu, di Jakarta ada anjing-anjing kolonial yang selalu menjulurkan lidahnya berharap bisa menikmati tubuh molek sang bintang film. Di tengah perjuangan revolusi, ia berjuang dengan caranya sendiri. Bermodal ketenaran sebagai artis, ia berangkat ke Jakarta.

Tapi bisakah revolusi lahir dari seorang artis cantik? Ia memang tidak berharap demikian. Cantik di jaman itu hanyalah petaka. Kebanggaan? Tidak sama sekali bagi Larasati. Selain bahwa kecantikannya adalah satu-satunya alasan para budak kolinial tidak menembaknya, sungguh ia menderita dengan kecantikannya itu.

Yang mengesankan, bagi Larasati, revolusi di atas segala-galanya. Bahkan bila diperaturhkan dengan tubuh moleknya pun. Baginya, tidak mengapa beberapa kali ia harus ditiduri oleh para penjahat revolusi. Yang terpenting bangsa ini harus bersih dari anjing-anjing kolonial.

Roman Larasati karya Pramoedya Ananta Toer memang bukanlah kisah heroisme sebagaimana banyak kisah pahlawan di tengah perang. Pram hanya menulis kisah tentang mereka yang dilindas oleh kolonial tapi masih punya semangat untuk merdeka.

Yang ingin ditunjukkan Pram, bintang film cantik yang tubunhnya digilir banyak pria, masih punya semangat revolusi. Bahwa perjuangan bukan hanya milik pria berseragam, tapi juga bisa keluar dari bibir wanita cantik bergincu merah tebal. Walau hanya dengan selemah-lemah perjuangan: menolak ajakan main film oleh para opsir Belanda.

Tapi itu dulu. Larasti dalam roman itu hanyalah artis pada zaman revolusi. Jika Larasti lahir di zaman sekarang, maka mungkin saja ia telah menjadi saingan Agnes Monica, buru-buru go internasional.

Ya, di era ini kita memang tidak lagi membincang revolusi. Wajar bila banyak perempuan tiba-tiba ingin tenar. Larasti mungkin saja merasa kecantikannya sebagai sesuatu yang menyiksa, tapi sekarang kecantikan adalah berkah berlipat. Modal sosial untuk mendapatkan apa saja.

Maaf, tidak bermaksud melecehkan perempuan. Tapi adakah dijaman ini perempuan tidak lagi menjadi korban sejar ah? Temukan jawabannya di sinetron Putri Yang Ditukar, Amira mungkin bisa menjawabya.

*Lima hari menjelang Hari Kartini.

Selasa, 29 Maret 2011

Gedung Dewan

Sementara kita panik dengan bom buku, kita alpa satu hal. Ada konspirasi besar yang menggerus trliunan rupiah. Besaran yang hanya dikalahkan oleh skandal Century.

Kepada para Syuhada Islam, maafkan kami yang selalu mengkambinghitamkanmu atas berbagai teror kemanusiaan. Kami percaya, bukan kalian, semua itu adalah ulah para tikus berdasi di atas sana. Mereka memang gemar berbuat rusuh demi memalingkan pandang kami dari tangan-tangan mereka yang setiap saat menilap uang rakyat.

Entah kapan politik pengalihan isu itu menjadi alat kekuasaan. Semua menjadi terang ketika kita sadar betapa sebuah isu penting luput dari perhatian sejenak setelah bom buku meledak. Mega skandal yang kita abaikan itu adalah proyek triliunan rupiah pembangunan gedung mewah para dewan terhormat. Tidak kurang dari 1,1 Triliun rupiah untuk gedung yang didalamnya jauh melebihi hotel bintang tujuh.

Inilah demokrasi yang kita idam-idamkan, dimana rumah rakyat berdiri megah namun rakyat tak pernah sekalipun menikmati kemegahannya. Inilah tatanan yang kita elu-elukan, dimana perselingkuhan antara para dewan dengan pelacur kota bakal di legalkan di rumah yang dibangun atas jerih payah rakyatnya. Jangan bermimpi untuk bertemu mereka lagi, sebab hari-harinya bakal dimanjakan dengan mandi sauna dan spa.

Bila saja nurani masih mempimpin, tak akan ada kemewahan di atas darah dan air mata. Tapi lupakan nurani. Kita memasuki babakan baru, dimana rakyat hanyalah angka imajiner. Mereka selalu diklaim untuk setiap kebijakan yang tak pernah sedikitpun mereka nikmati. Ya, disini, rakyat tidak pernah bisa lebih dari deretan statistik.

Marzuki Alie yang juga seperti Tuannya gemar dengan pidato kontroversi. Kemarin, ia tegaskan pembangunan gedung dewan yang baru atas keinginan rakyat. Dan baginya, suara perlawanan dari kelompok masyarakat tidak lebih dari salakan anjing. Tak peduli gonggongannya keras, khafilah tetap berlalu.

Baginya, pembangunan gedung dewan adalah kemutlakan. Jangan harap ada debat kusir dan panitia angket soal ini. Tidak ada kata koalisi ataupun oposisi, semua melebur dalam satu suara “pembangunan gedung dewan keinginan rakyat”. Padahal, kurang apa lagi gedung bundar. Para dewan terhormat tak perlu takut dengan lemparan batu demonstran, pagarnya terlampau tinggi untuk dilewati para demonstran.

Tetapi manusia memang tidak ada puasnya. Selalu ada keinginan untuk mendapat lebih lagi. Sialnya, segala kemewahan itu diperoleh dari kerja keras orang lain, yang tiap saat diperas lewat pajak dan retribusi.

Kepada Marzuki Alie, kami sadar tulisan ini pun tak bisa menghalangimu membangun gedung megah itu. kami hanya bisa berdoa semoga gedung menjulang itu nantinya tahan gempa, sebagaimana mitos bangunan akan kuat jika pondasinya bercampur darah dan potongan tubuh manusia.